Kejar Imunisasi, Cegah KLB: Kolaborasi Sekolah–Nakes–Ulama
Oleh:
Ns. Andri Praja Satria, M.Biomed
PULANGPISAUMU.COM – Mulai Agustus hingga November 2025, sekolah-sekolah di seluruh Indonesia kembali menjadi garda terdepan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Ini bukan sekadar agenda rutin melainkan momen untuk menutup jurang perlindungan yang masih membuat sebagian anak kita rentan terhadap penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Kalender nasional yang dilengkapi dengan materi resmi sudah disiapkan Kementerian Kesehatan. Maka tugas kita adalah mengeksekusinya dengan rapi, cepat, dan menyeluruh.
Urgensinya nyata. Pada 30 Agustus 2025, pemerintah menyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Sumenep: 2.321 kasus, 20 anak meninggal. Angka itu bukan sekadar statistik, itu alarm keras bahwa ada celah cakupan imunisasi dasar dan lanjutan yang belum kita tutup. Tidak ada alasan untuk menunda perbaikan karena setiap pekan tanpa aksi berarti memberi peluang virus menyambar anak lainnya.
Tiga kunci sukses BIAS 2025 sudah jelas. Pertama, eksekusi kejar imunisasi yang berbasis data. Kedua, kemitraan antara sekolah dan nakes (tenaga kesehatan) yang operasional, bukan seremonial. Ketiga, dukungan tokoh agama/komunitas untuk menepis hoaks dan membangun kepercayaan publik.
Ketiganya saling menguatkan antar komponen dimana sekolah dan nakes mengeksekusi jemput bola, lalu ulama dan pemuka komunitas memastikan orang tua merasa aman, mantap, dan paham manfaatnya.
Kejar imunisasi, dari sekedar “event” menjadi budaya layanan. Indonesia sebenarnya sudah punya praktik baik seperti “Sepekan Mengejar Imunisasi” (kampanye pekan imunisasi untuk mengejar anak yang tertinggal). Mengapa tidak kita jadikan pola bulanan selama periode BIAS?, dengan cara mendaftarkan nama-nama siswa di tiap kelas, tandai yang belum lengkap, dan siapkan skema layanan alternatif (klinik sore, akhir pekan, atau saat pembagian rapor). Kampanye ini bukanlah lomba poster yang hanya ditempel di papan pengumuman, tapi soal manajemen yang disiplin, tepat sasaran dan transparan.
HPV (Human Papillomavirus) satu dosis, peluang emas memperluas cakupan. WHO sejak 2022 merekomendasikan jadwal satu atau dua dosis HPV untuk perempuan usia 9–20 tahun. Kebijakan ini dapat menyederhanakan logistik, memangkas kunjungan, dan tentu yang terpenting adalah memperbesar peluang anak perempuan menerima perlindungan terhadap penyakit yang disebabkan oleh HPV. Kita mulai melihat daerah dapat beradaptasi. Sumatera Selatan, misalnya, dalam Surat Edaran BIAS 2025 menyatakan peralihan dari dua dosis menjadi satu dosis HPV untuk sasaran kelas 5/usia 11 tahun. Hal ini menjadi contoh praktik baik dimana Nasional perlu mendorong adopsi serupa agar target cakupan 90% bukan lagi wacana.
Sekolah sebagai simpul layanan
Keunggulan BIAS adalah sederhana namun strategis, anak-anak berkumpul di satu tempat, terdata, dan bisa dipantau. Karena itu, kolaborasi puskesmas–sekolah harus berujung pada dashboard mingguan di tingkat kecamatan yang mencakup berapa anak yang sudah menerima MR (Measles-Rubella), Td/DT (Tetanus-Difteri/Difteri-Tetanus), dan HPV, berapa yang tertinggal, sekolah mana yang perlu kunjungan tambahan. Transparansi data ini, bahkan hanya zonasi merah/kuning/hijau sudah cukup untuk menggerakkan kepala sekolah, komite, dan lurah/RT-RW menutup gap. Materi resmi BIAS 2025 sudah tersedia, selanjutnya tinggal ditambah disiplin pelaporan di lapangan.
Mengapa tokoh agama/komunitas krusial?, Karena vaksin bukan sekadar urusan klinis ia juga menyangkut kepercayaan. Strategi Komunikasi Nasional Imunisasi 2022–2025 secara eksplisit menempatkan pemuka agama sebagai pilar advokasi dan mobilisasi sosial, berangkat dari mimbar, majelis, hingga pengajian ibu-ibu. Modal normatifnya kuat, dapat kita akses Fatwa MUI No. 4/2016 yang menegaskan imunisasi boleh, bahkan dapat menjadi wajib guna mencegah terjadinya penyakit berbahaya. Di tengah kabar palsu yang terus beredar (misalnya, “HPV bikin mandul”), suara ulama yang jernih dan berbasis dalil menjadi penentu.
(1) “Soal halal?” Rujuk fatwa MUI 4/2016 dan jelaskan prinsip darurat/hajat jika ada isu komponen. Tampilkan ini di surat ke orang tua, poster sekolah, dan materi ceramah.
(2) “Takut KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)?” Jelaskan profil keamanan dan alur pelaporan KIPI, lalu bandingkan risikonya dengan beban penyakit nyata seperti KLB campak yang terjadi di Sumenep.
(3) “Kenapa HPV jadi satu dosis?” Tunjukkan rekomendasi WHO dan contoh daerah yang telah menerapkannya, sampaikan keuntungannya dimana akses lebih mudah, putus-nyambung antar dosis tidak ada lagi.
Apa yang perlu dilakukan, mulai pekan ini?
Pertama, tetapkan daftar sasaran kelas per kelas dimana Kepala sekolah, guru, dan puskesmas duduk satu meja menandai nama yang belum lengkap. Kedua, jadwalkan kejar imunisasi bulanan (bukan sekali lewat) hingga November lalu gelar layanan di momen ramah orang tua seperti pembagian rapor, rapat komite, pentas seni. Ketiga, aktifkan mimbar warga dimulai dari khutbah/ceramah tujuh menit yang memuat tiga poin manfaat, keamanan, dan rujukan fatwa. Keempat, publikasikan capaian mingguan di papan sekolah, grup WhatsApp RT/RW, dan kanal InfoPublik/Kominfo daerah, buat slogan malu zonasi merah itu sehat, karena mendorong aksi konkret. Kelima, adopsi satu dosis HPV sesuai rujukan teknis, bila provinsi Anda belum menerbitkan surat edaran, dorong segera harmonisasi dengan rekomendasi WHO agar distribusi dan tenaga bisa difokuskan ke perluasan jangkauan.
Intinya sederhana, kita sudah punya instrumen kebijakan, bukti ilmiah, dan materi komunikasi. Kegagalan mencegah KLB bukan karena kurangnya panduan, melainkan kurangnya eksekusi lintas peran. Ketika sekolah menyiapkan daftar sasaran, puskesmas menjemput bola, dan ulama menenangkan hati orang tua maka angka-angka cakupan sudah semestinya meningkat. Anak-anak kita berhak atas perlindungan terhadap ancaman penyakit tanpa kecuali dan tanpa penundaan.
BIAS 2025 harus menjadi tonggak “budaya kejar” baru, tidak ada anak yang tertinggal karena alamatnya jauh, orang tuanya ragu, atau jadwalnya bertabrakan. Dari kelas, klinik, hingga mimbar bergerak serempak. Satu anak lagi menerima vaksin hari ini berarti satu keluarga tidak berduka besok. Dan itu, pada akhirnya, adalah ukuran keberhasilan yang paling jujur dan diharapkan.

