Kejujuran Akar Rumput, Harapan bagi Masa Depan Muhammadiyah
YOGYAKARTA, PULANGPISAUMU.COM – Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah telah membangun modal sosial berupa kepercayaan publik. Hal itu tercermin dari meningkatnya jumlah siswa di sekolah-sekolah Muhammadiyah, rumah sakit Muhammadiyah yang menjadi rujukan masyarakat, hingga kepercayaan umat dalam menyalurkan dana melalui Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu). Secara umum, Muhammadiyah masih menjadi salah satu tumpuan masyarakat Indonesia.
Namun, kebesaran Muhammadiyah tidak hanya bertumpu pada kepercayaan publik. Kemampuan Persyarikatan untuk menerima kritik dari kalangan internal juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan gerakannya.
Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, dalam acara Apresiasi Buku Reinventing Muhammadiyah: Desakan Pembaruan Gerakan Pembaharuan di Aula Gedung Muhammadiyah, Rabu (30/9/2026).
Busyro mengapresiasi terbitnya buku tersebut. Menurutnya, penggunaan pendekatan fenomenologi oleh para penulis merupakan pilihan yang tepat. Pendekatan yang bertolak dari fenomena dan realitas Muhammadiyah selama 114 tahun ini menunjukkan bahwa kritik yang disampaikan bukan sekadar pandangan tanpa dasar, melainkan lahir dari data dan tanggung jawab.
“Saya ingin mengapresiasi para penulis karena membaca memotivasi dengan pendekatan kritis,” ujar Busyro.
Bagi Busyro, buku Reinventing Muhammadiyah bukan sekadar dokumentasi ilmiah, tetapi juga menjadi gambaran nyata tumbuhnya budaya demokrasi dan demokratisasi di lingkungan Persyarikatan. Karya tersebut membuka ruang bagi kader untuk menyampaikan aspirasi dan gagasan kritis yang konstruktif.
Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah sekaligus editor buku, David Efendi, menjelaskan bahwa para penulis buku tersebut harus memiliki Nomor Baku Muhammadiyah (NBM).
“Hanya yang memiliki NBM yang diperkenankan menulis buku ini,” ujar David.
Ia menambahkan, objektivitas dan kejujuran kader menjadi landasan penting dalam upaya melakukan koreksi sekaligus meneruskan berbagai kebaikan yang telah dilakukan Muhammadiyah sepanjang perjalanan sejarahnya.
Fathul Wahid, alumni Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang pernah menjabat Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) selama dua periode, turut memberikan epilog yang menekankan pentingnya keberagaman narasi dalam buku tersebut.
Menurutnya, narasi tunggal yang dominan bukanlah sesuatu yang sehat. Buku ini justru memberikan ruang bagi kader di tingkat akar rumput untuk menyampaikan pandangan secara jujur, sekaligus menghadirkan upaya perbaikan melalui tulisan.
“Buku ini memberikan ruang pada kader di akar rumput untuk berani berkata jujur dengan keadaan dan upaya perbaikannya melekat di dalam tulisan baik langsung maupun tidak langsung,” ungkapnya.
Dalam refleksinya, Busyro juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas gerakan di tengah dinamika sosial dan politik. Para kader dan tokoh Persyarikatan diharapkan tetap istiqamah dalam menjalankan pengabdian serta mewaspadai godaan politik praktis maupun proyek-proyek tertentu yang berpotensi mengaburkan arah dakwah berkemajuan.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatiannya adalah nepotisme atau yang disebutnya sebagai “klik-isme”. Menurut Busyro, praktik tersebut bertentangan dengan nilai egaliter yang diajarkan Islam.
“Yang mau dibicarakan itu kualitas ibadahnya, tauhidnya, amal-amal salehnya,” tutur Busyro.
Lebih dari sekadar kritik, Busyro memandang kehadiran buku ini sebagai tanda bahwa Muhammadiyah masih memiliki harapan besar untuk terus berkembang. Meski demikian, ia mengingatkan agar rasa syukur atas pencapaian Persyarikatan tidak berubah menjadi sikap berlebihan dalam membanggakan diri.
“Allah tidak menyukai orang yang terlalu membangga-membanggakan diri,” pungkasnya.


