Menjaga Spirit Ramadhan, Menggapai Ketakwaan Sejati : Khutbah Idul Fitri 1446 H
Oleh : Najmuddin, S.Ag.MH, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pulang Pisau
PULANGPISAUMU.COM – Naskah Khutbah Idulfitri ini mengajak umat
Islam untuk merenungkan makna Ramadhan sebagai bulan pendidikan jiwa. Ramadhan melatih kesabaran, kedisiplinan, dan empati, serta mengajarkan manusia untuk menahan hawa nafsu, baik dalam hal makanan, minuman, maupun dalam tindakan dan pikiran.
Berikut naskah lengkap Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1446 H yang dilaksanakan di halaman Masjid KH Ahmad Dahlan Pulang Pisau pada Hari Senin 31 Maret 2025.
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu
dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”
( QS Al-baqarah : 21 )
Jamaah Shalat Idul Fitri Rahimakumullah
Alhamdulillah, marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan
syukur ke hadirat Allah SWT. Betapa besar nikmat yang telah
diberikan-Nya kepada kita, terutama kesempatan untuk
menyelesaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Ramadhan bukan sekadar bulan penuh ibadah, tetapi juga bulan
pendidikan bagi jiwa dan hati kita, mengajarkan kepada kita
kesabaran, kedisiplinan dan empati terhadap sesama.
Ramadhan tahun ini telah pergi, dan tidak ada jaminan apakah
ibadah puasa Ramadhan kita tahun ini diterima oleh Allah swt.
Tidak ada jaminan pula apakah Allah swt akan mempertemukan
kembali kita dengan bulan suci Ramadhan yang akan datang.
Semua itu sepenuhnya hak Allah swt.
Karenanya, mari bermuhasabah diri di hari yang suci ini, dengan
berharap dapat berjumpa kembali dengan bulan suci Ramadhan yang akan datang
Semoga kita dapat kembali kepada kesucian lahir batin dan
menjadi seorang pemenang yang mampu menjinakkan hawa
nafsu dengan penuh istiqamah.
Semoga Allah swt menerima amal ibadah puasa Ramadhan kita,
dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali kepada
kesucian lahir batin dan menang melawan hawa nafsu.
Semoga segala amal ibadah yang telah kita lakukan diterima
oleh Allah swt, dosa-dosa kita diampuni, serta kehidupan kita di
bulan-bulan mendatang dipenuhi dengan keberkahan dan
petunjuk-Nya.
Jamaah shalat Id rahimakumullah
Sebagai manusia kita ditakdirkan menjadi ciptaan yang terbaik
yang memiliki kecenderungan-kecenderungan pribadi atau
nafsu, disamping juga mempunyai akal sehat.
Dengan kedua karunia itu sebagai manusia kita hidup di dunia
ini dengan aktifitas sedemikian rupa, mulai dari bekerja, bergaul,
belajar, makan, minum dan lain sebagainya.
Pernahkah kita menyediakan waktu untuk menimbang dan
menakar, lebih banyak mana dari sekian banyak aktifitas yang
kita lakukan itu antara manfaat dan madharatnya
Kalaupun dari aktifitas kita itu tidak menimbulkan madharat,
adakah aktifitas yang kita lakukan bukan merupakan sesuatu
yang sia-sia.
Mungkin yang kita lakukan secara kasat mata tidak merugikan
orang lain, maupun diri sendiri, akan tetapi sukar menghindari
dari kemubadziran, entah itu kemubadziran waktu ataupun harta
benda.
Puasa Ramadhan mengajarkan kepada kita untuk menahan diri ,
setidak-tidaknya dalam hal paling sederhana yaitu makan dan
minum.
Puasa melatih kita untuk kuluu wasyrabuu wala tusrifu
( makan dan minum secukupnya ).
Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihlebihan. ( Ala’raf : 31 )
Setelah puasa terhadap nafsu makan dan minum, ada puasa
terhadap nafsu keserakahan yang lebih besar : yaitu
mengendalikan anggota badan dan menjaga hati agar
kejernihannya tak terkotori. Memilah mana yang hak dan mana
yang bathil, memilah mana yang dibutuhkan dan mana yang
hanya sekadar diinginkan.
Karenanya jamaah shalat Id Rahimakumullah, mari kita
merenung, Adakah puasa kita sungguh mampu menjadi
pengendali diri dari cela batin dan cacat perbuatan,
Masihkah kita mampu menjaga mata dari melihat dengan penuh
curiga atau penuh benci dan cela ?
Masihkah telinga kita terjaga dari suara-suara yang
mengeruhkan kejernihan jiwa ?
Masihkah kita mampu mengamankan hati dari menebar
prasangka buruk kepada sesama saudara ?
Masihkah kita mampu mengontrol pikiran dari penilaian tanpa
kecukupan pemahaman ?
Bukankah sikap berprasangka masih sering kita lakukan ?
Menilai sebelum punya data pasti, menuduh meski hanya
melihat sebagian peristiwa, bahkan memvonis sebelum
memahami situasi yang sebenarnya.
Bukankah kebenaran masih sering ditaklukkan oleh emosi dan
kepentingan, Citra dan tampilan lebih dipentingkan dari fakta dan
kebenaran. Ingatlah firman Allah :
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan
hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. ( Alisra : 36 )
Jamaah shalat Id rahimakumullah.
Setelah Ramadhan kita akhiri, bukan berarti berakhir sudah
suasana ketaqwaan kepada Allah swt, namun justeru tugas
berat menanti kita untuk membuktikan keberhasilan ibadah
Ramadhan itu dengan peningkatan ketaqwaan kepada Allah swt,
karenanya bulan sesudah Ramadhan adalah Syawwal yang
artinya peningkatan. Disinilah letak pentingnya melestarikan
nilai-nilai Ibadah Ramadhan.
Jangan tanggalkan nilai-nilai yang dibawa oleh Ramadhan
terutama yang ditawarkan melalui puasa. Nabi Muhammad
mengingatkan kita bahwa : Berapa banyak orang yang
berpuasa, yang didapatnya hanya sekadar dapat lapar dan
dahaga.
Karenanya Jamaah Id Rahimakumullah, Jaga mata dari melihat
dengan penuh curiga atau penuh benci dan cela. Jaga telinga
kita agar terjaga dari suara-suara yang mengeruhkan kejernihan
jiwa.
Amankan hati dari menebar prasangka buruk kepada sesama
manusia, terutama kepada saudara sesama muslim. Kontrol
pikiran dari menilai tanpa kecukupan pemahaman ?
Jamaah shalai Id rahimakumullah
Tingginya kualitas serta kuantitas ibadah yang dilakukan selama
Ramadhan, sejatinya merupakan sarana pelatihan untuk bulanbulan setelahnya.
Semangat ibadah selama Ramadhan, jangan sampai luntur dan
menurun ketika memasuki bulan Syawwal. Tempaan selama
Ramadhan harus tetap dilanjutkan ketika bulan Syawwal serta
bulan-bulan berikutnya. Syawwal dan bulan-bulan berikutnya
merupakan bulan pertaruhan apakah berpengaruh tempaan
yang dilakukan selama Ramadhan terhadap kebaikan diri
seseorang di masa mendatang.
Demikian pula dengan ibadah-ibadah lain yang dilakukan
selama Ramadhan dapat dilanjutkan pada bulan-bulan
setelahnya. Ibadah seperti membaca Al-Quran, shalat malam,
infaq, sedekah, dan ibadah lainnya.
Selama diberi kesempatan untuk melakulan amal shaleh, pada
bulan apapun itu segeralah untuk melaksanakannya. Tidak perlu
menunggu Ramadhan selanjutnya untuk rutin membaca
Alquran, berinfaq, dan bersedekah. Pada bulan-bulan lain pun
ampunan Allah amat sangat luas bagi hamba-Nya yang ingin
bertaubat dan mendekatkan diri pada-Nya.
Jamaah shalat Id Rahimakumullah
Ramadhan adalah satu dari rangkaian bulan dalam satu tahun
pada kalender Hijriah. Ketika di Bulan Ramadhan, kita dilatih
untuk menahan sesuatu yang sebetulnya dihalalkan, hendaknya
di luar Ramadhan kita juga mampu menahan segala sesuatu
yang berpusar pada kehendak nafsu.
Kalau Nabi mengingatkan umatnya agar di Bulan Ramadhan
tidak hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga, hal itu bisa
kita gunakan untuk membingkai batin kita bahwa di sela-sela
puasa itu juga banyak godaan-godaan nafsu.
Misalnya, saat menyantap menu berbuka, apakah kita masih
mampu menjaga kualitas jiwa dari keserakahan dan
kemelekatan kita dengan nafsu. Apakah kita masih mampu
merasakan bahwa betapa banyak nikmat yang diberikan oleh
Allah kepada kita, sementara diluar sana masih banyak orang
kekurangan dan membutuhkan bantuan dan dapatkah kita
mempraktikkan kepedulian sosial terhadap orang-orang yang
membutuhkan bantuan itu.
Bersamaan dengan menghindarkan diri dari hal-hal yang
dilarang, puasa juga mengajarkan kita untuk peningkatan
kuantitas sekaligus kualitas. Hal inilah yang mesti kita
pertahankan juga di luar Bulan Ramadhan.
Maka, setelah Ramadhan, semangat jiwa Ramadhan itu bisa kita
pertahankan di bulan-bulan berikutnya.
Terakhir kami mengingatkan, setelah puasa Ramadhan sebulan
penuh, ada puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal yang
memiliki keutamaan yang luar biasa, di mana pahalanya setara
dengan berpuasa selama satu tahun penuh. Hal ini
sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah saw dalam
sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
“Siapa saja yang berpuasa Ramadan, kemudian dilanjutkan
dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala
berpuasa setahun.” (HR Muslim).
Akhirnya, marilah kita akhiri khutbah ied ini dengan berdo’a:
Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaikbaik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya
Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan.
Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik
pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya
Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki
sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki.
Tunjukilah dan lindungilah kami dari orang-orang yang dzalim
dan ingkar.
Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia
merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami yang
ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang
menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai
tambahan kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai
kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.
Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang
membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu
dan jadikan ketaatan kepada-Mu mengantarkan kami ke surgaMu, dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan
ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.
Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui
pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih
hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau
jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita dan puncak dari ilmu
kami.
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat,
mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang
telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha
Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di
dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari
azab neraka.


