Muhammadiyah Bergerak untuk Flores: Pos Pelayanan Gempa Manggarai Timur Layani 3.466 Warga
MANGGARAI TIMUR, PULANGPISAUMU.COM — Ketika gempa mengguncang Flores dan meninggalkan luka bagi ribuan warga, kepedulian tidak boleh berhenti pada rasa iba. Di tengah situasi darurat, Muhammadiyah hadir bersama masyarakat, bergerak dari satu titik ke titik lainnya untuk memastikan para penyintas tidak menghadapi bencana seorang diri.
Melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bersama Lazismu, pos pelayanan kemanusiaan pertama di Manggarai Timur mulai diaktifkan. Layanan tersebut menghadirkan dukungan kesehatan, permakanan, paket keluarga, dukungan psikososial, pendidikan darurat, air bersih dan sanitasi, hingga hunian darurat. Hingga kini, layanan telah menjangkau 3.466 warga terdampak.
Respons kemanusiaan ini merupakan bagian dari upaya Muhammadiyah memperkuat penanganan dampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur. MDMC dan Lazismu membuka Pos Koordinasi (Poskor) di enam kabupaten serta merencanakan pendirian pos pelayanan di sembilan titik layanan Muhammadiyah.
Fase tanggap darurat direncanakan berlangsung selama 30 hari dengan melibatkan berbagai unsur relawan dan sumber daya Muhammadiyah, baik dari daerah terdampak maupun dari luar wilayah.
Untuk memperkuat layanan kesehatan, MDMC menyiapkan delapan tim Emergency Medical Team (EMT). Relawan dari Jawa Timur, Kupang, dan Bima juga dimobilisasi untuk mendukung respons di lapangan. Selain itu, tim KKN dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Ahmad Dahlan (UAD), dan Universitas Muhammadiyah Kupang turut terlibat dalam pelayanan bersama masyarakat dan pemerintah setempat.
Ketua Pos Koordinasi (Poskor) MDMC, Indrayanto, mengatakan penguatan koordinasi menjadi bagian penting agar respons kemanusiaan dapat menjangkau masyarakat terdampak secara tepat sesuai kebutuhan.
“Manajemen penanganan darurat ini kami lakukan dengan memperkuat koordinasi di wilayah terdampak dan membuka pos pelayanan di sejumlah titik layanan Muhammadiyah. Relawan dari berbagai daerah bersama masyarakat dan pemerintah setempat bahu-membahu memastikan layanan dasar dapat diberikan kepada warga terdampak,” ujar Indrayanto.
Fokus Pelayanan di Sambi Rampas
Salah satu wilayah yang menjadi fokus pelayanan adalah Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. Hingga Ahad (16/8) pukul 15.00 WITA, tim gabungan terus melakukan pendataan dan verifikasi kondisi warga di empat wilayah sepanjang pantai, yakni Desa Naga Rama, Nanga Baling, Nanga Baur, dan Kelurahan Pota.
Wilayah tersebut menjadi perhatian karena terdapat banyak penyintas serta kerusakan bangunan dan infrastruktur yang cukup parah.
Pendataan dilakukan oleh tim yang terdiri atas mahasiswa KKN Pena UMY, KKN Universitas Muhammadiyah Kupang, bersama Puskesmas, Koramil, Polsek, dan Camat Sambi Rampas. Data yang dihimpun meliputi kondisi korban, kerusakan permukiman dan fasilitas umum, serta kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.
Data tersebut menjadi dasar untuk menentukan bentuk dan prioritas layanan sehingga bantuan yang disalurkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan warga.
Posko Jadi Pusat Layanan Warga
Untuk mendukung penanganan di lapangan, Posko Induk didirikan di halaman SMK Muhammadiyah Manggarai Timur. Posko ini menjadi salah satu pusat layanan masyarakat, mulai dari pengobatan, dapur umum, hingga layanan informasi dan pendataan warga terdampak.
Sementara itu, Posko Sekretariat yang berpusat di Kantor SMK Muhammadiyah Manggarai Timur terus mengintegrasikan data dari lapangan. Pendataan dilakukan secara berjenjang bersama pemerintah desa dan selanjutnya diverifikasi oleh tim di lapangan.
Langkah tersebut dilakukan agar bantuan yang diberikan dapat lebih tepat sasaran dan menjawab kebutuhan nyata masyarakat yang terdampak gempa.
Berdasarkan pendataan sementara, kebutuhan prioritas masyarakat meliputi air bersih, makanan siap saji, perlengkapan bayi dan balita, tenda keluarga, terpal, selimut, matras, obat-obatan dasar, perlengkapan sanitasi, serta layanan kesehatan keliling.
Melalui respons bersama ini, MDMC dan Lazismu berupaya memastikan masyarakat terdampak memperoleh hak untuk mendapatkan bantuan dan layanan dasar selama masa tanggap darurat.
Di tengah momentum menyongsong 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, gerakan kemanusiaan tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan juga berarti hadir dan bergotong royong ketika sesama sedang menghadapi kesulitan.
Bagi Muhammadiyah, bencana bukan hanya tentang kerusakan yang harus dipulihkan, tetapi juga tentang kepedulian yang harus terus dinyalakan. Dari Flores, semangat itu kembali diteguhkan: tidak membiarkan mereka yang terdampak bencana berjalan sendirian.

