Kopdarnas Serikat Taman Pustaka, Merajut Silaturahmi, Menumbuhkan Gerakan Literasi Muhammadiyah

PURWOKERTO, PULANGPISAUMU.COM – Semangat literasi terus menyala di lingkungan Muhammadiyah. Hal itu tampak dalam Kopi Darat Nasional (Kopdarnas) Serikat Taman Pustaka Muhammadiyah yang digelar di Aula Ukhuwah Islamiyah, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Sabtu (18/7/2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah Tahun 2026 ini mempertemukan para pegiat taman pustaka dari berbagai daerah. Hadir pula anggota Himpunan Pustakawan Muhammadiyah Aisyiyah (HIMPUSMA), pustakawan sekolah, serta pegiat literasi di wilayah Banyumas. Sekitar 150 peserta mengikuti kegiatan yang berlangsung selama satu hari penuh.

Dalam sambutannya saat membuka Rakernas MPI PP Muhammadiyah, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dadang Kahmad menegaskan bahwa budaya membaca merupakan fondasi kemajuan sebuah bangsa.

“Bangsa yang membaca akan menjemput kemajuan peradaban. Sebaliknya, bangsa yang tidak mau membaca akan tertinggal dari kemajuan peradaban,” ujarnya.

Dadang juga mengajak seluruh penggerak dan aktivis Muhammadiyah untuk terus menumbuhkan budaya literasi. Menurutnya, ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian para pegiat Taman Pustaka Muhammadiyah, yakni pertama menjadikan literasi sebagai bagian dari ibadah, kedua membangun perpustakaan, ketiga  menjadikan perpustakaan untuk memproduksi pengetahuan, lahirnya gagasan, penelitian, inovasi, dan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.

Suasana Kopdarnas semakin hangat ketika memasuki sesi Temu Penulis Banyumas. Dalam sesi ini, peserta mendapat kesempatan berdialog langsung dengan dua sastrawan kondang Ahmad Tohari dan Nasirun Purwokartun, yang membagikan pengalaman serta perjalanan mereka di dunia kepenulisan.

Ahmad Tohari, penulis novel legendaris Ronggeng Dukuh Paruk, mengisahkan proses kreatif yang membentuk karya-karyanya. Ia mengaku memilih menjadi penulis karena ingin menemukan jejak-jejak nilai kemanusiaan dalam kehidupan masyarakat.

“Saya menjadi penulis karena berharap menemukan jejak-jejak Ilahi dalam kehidupan. Jejak itu saya temukan dalam kehidupan orang-orang miskin,” ungkapnya.

Tohari juga mengakui tidak berbakat menulis  karya sastra yang  berwatak kota apalagi orang kaya.

Dua sastrawan kondang Ahmad Tohari dan Nasirun Purwokartun membagikan pengalaman serta perjalanan mereka di dunia kepenulisan (Foto Istimewa)

Sementara itu, Nasirun Purwokartun membagikan perjalanan panjangnya sebagai novelis sekaligus penulis berbagai naskah babad, seperti Babad Banyumas, Babad Diponegoro, dan Babad Sapehi. Menurutnya, menulis naskah sejarah berbahasa Jawa membutuhkan kesabaran dan ketekunan karena tidak banyak orang yang tahu dan mau menulisnya.

Selain aktif menulis, Nasirun juga mengembangkan Bale Pustaka, sebuah rumah baca yang menjadi ruang literasi bagi masyarakat Banyumas. Melalui ruang tersebut, ia terus mengajak masyarakat untuk tumbuh dan bergerak membangun budaya baca..

Kegiatan Kopdarnas juga diisi dengan sesi berbagi pengalaman dari sejumlah komunitas literasi, di antaranya Rumah Baca Banjarnegara, Komunitas Limbah Pustaka, serta Himpunan Pustakawan Muhammadiyah Aisyiyah (HIMPUSMA). Para peserta saling bertukar gagasan mengenai strategi mengembangkan taman baca dan menggerakkan budaya literasi di tengah berbagai tantangan yang dihadapi.

Sesi berbagi praktik baik dari sejumlah pegiat Taman Baca dan komunitas literasi (Doc.MPI)

 

Di tengah keterbatasan dan juga tantangan yang tidak mudah, Serikat Taman Pustaka terus bergerak meneruskan cita-cita Kiai Dahlan yang menjadikan buku tidak hanya jadi ruang bisu, tetapi bergerak dan menggerakkan pikiran.

Kopdarnas ditutup oleh Wakil Sekretaris MPI PP Muhammadiyah M. Amir Nashiruddin, S.H.I. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pegiat Taman Pustaka Muhammadiyah yang selama ini menjadi penggerak literasi di berbagai daerah.

Menurutnya, para pegiat taman pustaka merupakan ujung tombak dalam menumbuhkan budaya membaca di lingkungan Muhammadiyah maupun masyarakat luas. Ia berharap silaturahmi yang terjalin melalui Kopdarnas ini semakin memperkuat kolaborasi dan melahirkan berbagai gerakan literasi yang memberi manfaat bagi umat. (AY/IA/Red)


Lazismu ramadhan

Bonni Febrian

Menginspirasi dan Menggerakkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *