Perkembangan Peradaban Islam Era Modern

Oleh:

Dianningsih Choiriyah Pramusintha

 

Periodisasi Islam terbagi menjadi tiga era, yakni: Islam pada Masa Klasik, Pertengahan, dan Modern. Perkembangan peradaban Islam di era modern tentu saja mengalami pasang dan surut. Pada era klasik, Islam menjadi panglima dalam peradaban dan di sisi lain kegelapan telah menyelimuti dunia Barat. Sedangkan pada era pertengahan, Islam mengalami kemunduran baik bidang pendidikan, teknologi maupun bidang yang lain. Kejadian inilah yang membuat umat Islam dipandang sebelah mata dan dikatakan tertinggal oleh dunia, jika dibandingkan dengan peradaban dunia Barat.

Dalam buku ajar yang ditulis oleh Drs. H. Abd. Rahman, MA & Hery Nugroho, S.Pd.I., M.Si., M.S.I. mengenai “Peradaban Islam pada Masa Modern” mengutip gagasan milik Prof. Dr. Harun Nasution sebagai Teolog Indonesia mengungkapkan bahwa masa modern dimulai dari tahun 1800-sekarang. Masa ini dikenal dengan masa kebangkitan Islam. Hal ini tidak lepas dari latar belakang kejadian ekspedisi Napoleon Bonaparte yang merupakan kampanye militer. Kampanye ini betujuan untuk mengganggu jalur perdagangan Inggis dan India, bahkan melakukan eksploitasi terhadap kekayaan di Mesir. Ekspedisi ini di mulai dari tahun 1798 dan berakhir pada tahun 1801 M. Disebabkan oleh kejadian inilah membuat Turki dan Mesir membuka mata, bahwa Islam telah memiliki kelemahan serta mengalami kemunduran.

Pada saat itu seluruh umat Islam bersatu mulai berpikir serta bekerjasama atas dorongan kesadaran demi mengembalikan kejayaan Islam hingga memperoleh kemajuan dalam bidang pengetahuan dan teknologi. Umat Islam yang tertinggal jauh dengan peradaban barat dengan demikian memunculkan pemikiran dan aliran pembaharuan atau dikenal modernisasi dalam Islam. Banyak yang mengikuti gerakan pembaharuan dan para pemuka Islam bergerak untuk mengambil langkah yang membuat umat Islam kembali maju. Akibat dari gerakan ini lahirlah sebuah tatanan baru dalam dunia Islam, yakni: bidang ilmu pengetahuan, politik, pendidikan, maupun kebangkitan melawan penjajah.

Sehingga pembaharuan di beberapa wilayah bahkan negara tidak luput dari peran para tokoh-tokoh yang berjuang. Dari negara Mesir, antara lain: Muhammad Ali Pasya (1765-1849 M), Rifa’ah Baidawi Rafi’at at-Tahtawi (1801-1873 M), Jamaludin Al-Afghani (183801897 M), Muhammad Abduh (1849-1905 M), Rasyid Ridha (1865-1935 M). Turki, yakni: Sultan Mahmud II (1785-1839 M), Namik Kemal (1840-1888 M). India, yaitu: Sayyid Ahmad Khan (1817-1898 M) dan Muhammad Iqbal (1877-1938 M). Sedangkan dari Indonesia salah satu tokohnya yaitu Kyai Haji Ahmad Dahlan. Memiliki nama kecil yang dikenal dengan Muhammad Darwisy. K. H Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta 1 Agustus 1868 dan meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun.

Demikian peran seorang tokoh karismatik dan berpengaruh yang berasal dari Mesir bernama Jamaludin Al-Afghani yang hadir menggencarkan gerakan yang disebut Pan-Islamisme. Pan-Islamisme yang merupakan gerakan politik dan sosial bertujuan untuk menyatukan semua umat Islam di dunia dalam satu entitas politik atau kebudayaan. Gerakan ini muncul sebagai respons terhadap penjajah Barat. Begitupun gerakan ini menjadi inspirasi bagi Indonesia ketika mengusir para penjajah dari negeri tercinta. Salah satu Perang yang dipimpin oleh para ulama ketika melawan penjajah Belanda adalah Perang Padri dipimpin langsung oleh Tuanku Imam Bonjol yang terjadi di Minangkabau (1821-1837), Perang Banjar di Kalimantan (1854-1864) dan lainnya.

Dampak lain dari gerakan pembaharuan ini adalah berdirinya beberapa organisasi keislaman di Indonesia yang belandaskan pada nilai serta ajaran Islam, salah satunya Muhammadiyah. Muhammadiyah berdiri pada 18 November 1912 dicetuskan oleh K.H. Ahmad Dahlan berfokus pada bidang ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan dan dakwah. K.H Ahmad Dahlan menekankan pentingnya pendidikan modern yang berbasis agama Islam, pembaruan dalam praktek keagamaan yang lebih sesuai dengan zaman, serta pemberdayaan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan. Di Indonesia, bukti peradaban Islam yang masih ada pada era modern dapat dilihat dari berbagai segi, yakni: Arsitektur masjid-masjid bersejarah seperti Masjid Agung Demak yang memiliki pengaruh Islam dalam desain dan konstruksi bangunannya. Seni kaligrafi, kesenian tradisional seperti wayang kulit dan tari Saman juga memiliki pengaruh Islam yang kuat. Pendidikan di sekolah Islam modern yang menggabungkan pendidikan agama dengan kurikulum nasional masih banyak ditemukan di seluruh Indonesia, pesantren juga tetap eksis dan berperan dalam membentuk karakter dan moral generasi milenial. Perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, ziarah kubur dan pengajian rutin juga tetap dilestarikan. Masyarakat yang bersikap menjunjung nilai solidaritas, gotong royong, dan keadilan sosial yang berasal dari ajaran Islam masih terlihat dalam berbagai aspek kehidupan.

Sebagian bukti yang di paparkan menunjukkan bahwa Islam telah menjadi bagian integral dari budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia pada era modern, mencerminkan keberlanjutan peradaban Islam di negeri ini tentu terus mengalami perkembangan dan transformasi sesuai dengan tuntutan zaman, namun tetaplah mempertahankan nilai-nilai serta identitas keislaman yang kuat.

 

Dianningsih Choiriyah Pramusintha | Mahasiswa Program Studi Psikologi Islam Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta tahun 2021/2022


Lazismu ramadhan

Bonni Febrian

Menginspirasi dan Menggerakkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *