Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah: Merawat Akal Sehat, Mencerahkan Peradaban
JAKARTA, PULANGPISAUMU.COM – Pers dan literasi bukan sekadar aktivitas menyampaikan informasi. Keduanya memiliki peran penting dalam menjaga akal sehat masyarakat, membangun budaya pengetahuan, sekaligus mendorong lahirnya peradaban yang lebih mencerahkan.
Pesan tersebut mengemuka dalam rangkaian Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 yang digelar Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah di Jakarta, 12–13 Agustus 2026.
Momentum tersebut menjadi ruang refleksi bagi insan media Muhammadiyah di tengah perubahan ekosistem informasi yang berlangsung sangat cepat. Perkembangan media digital, media sosial, hingga teknologi kecerdasan buatan (AI) menghadirkan peluang besar bagi penyebaran pengetahuan, tetapi sekaligus membawa tantangan terhadap kualitas informasi di ruang publik.
Dalam situasi tersebut, media Muhammadiyah dituntut tidak berhenti pada kecepatan menyampaikan berita. Media juga memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan informasi yang benar, berimbang, mencerdaskan, dan memberikan perspektif yang sehat kepada masyarakat.
Pers Bukan Sekadar Penyampai Informasi
Pers memiliki posisi strategis dalam kehidupan demokrasi. Selain memberikan informasi, pers menjalankan fungsi pendidikan dan kontrol sosial. Karena itu, kerja jurnalistik membutuhkan tanggung jawab etik dan keberpihakan pada kebenaran.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam refleksi Muhammadiyah tentang Hari Pers Nasional menekankan pentingnya pers menjalankan fungsi secara utuh, termasuk menyajikan informasi yang objektif, adil, mencerahkan, dan mencerdaskan masyarakat.
Pers juga perlu menghindari pemberitaan yang tendensius, provokatif, serta mencampuradukkan fakta dengan opini. Prinsip cover both sides dan penyajian berbagai sudut pandang menjadi bagian penting untuk membangun ruang publik yang sehat.
Bagi Muhammadiyah, pers dengan demikian bukan sekadar alat publikasi organisasi. Media merupakan bagian dari gerakan pencerahan yang ikut membangun budaya ilmu dan pengetahuan di tengah masyarakat.
Literasi untuk Menjaga Akal Sehat
Literasi dalam perspektif Muhammadiyah memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga berkaitan dengan kemampuan seseorang memahami, mengolah, memeriksa, dan menyikapi informasi secara kritis.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan tersebut menjadi semakin penting. Masyarakat tidak cukup hanya menjadi konsumen informasi, tetapi perlu memiliki kemampuan untuk memilah mana informasi yang dapat dipercaya, mana yang perlu diverifikasi, serta mana yang berpotensi menyesatkan.
Tradisi literasi sendiri telah menjadi bagian panjang dari perjalanan Muhammadiyah. Budaya membaca, menulis, berdiskusi, mengembangkan ilmu, dan menyebarluaskan pengetahuan merupakan bagian dari ikhtiar membangun masyarakat berkemajuan.
Karena itu, penguatan literasi pada akhirnya bukan hanya tentang meningkatkan minat baca, tetapi juga membangun akal sehat. Masyarakat yang memiliki budaya literasi akan lebih siap menghadapi banjir informasi, tidak mudah terjebak hoaks, dan mampu melihat persoalan secara lebih jernih.
Media AfiliasiMu dan Tantangan Era Digital
Dalam konteks tersebut, keberadaan media afiliasi Muhammadiyah menjadi semakin penting. Media-media yang tumbuh di lingkungan Persyarikatan memiliki peluang untuk memperluas dakwah pencerahan melalui kerja jurnalistik yang profesional, kredibel, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Jambore Media AfiliasiMu #3 menjadi salah satu ruang untuk memperkuat jejaring tersebut. Pertemuan insan media Muhammadiyah bukan hanya menjadi forum berbagi pengalaman, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama menghadapi perubahan teknologi dan perilaku konsumsi informasi masyarakat.
Media Muhammadiyah ditantang untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasar jurnalistik dan karakter gerakan.
Kecepatan teknologi tidak boleh mengalahkan ketelitian. Popularitas tidak boleh menggeser akurasi. Keinginan mendapatkan perhatian publik tidak boleh membuat media mengabaikan etika.
Terlebih dengan semakin berkembangnya teknologi AI, proses produksi dan distribusi informasi menjadi semakin mudah. Muhammadiyah mengingatkan agar teknologi digital dan AI tidak digunakan untuk menyebarkan keresahan, penipuan, pemerasan, maupun merusak martabat orang lain. Mekanisme penyuntingan dan pemeriksaan informasi sebelum dipublikasikan menjadi semakin penting.
Pada akhirnya, pers dan literasi memiliki tujuan yang saling berkaitan: membangun manusia yang lebih cerdas dalam memahami kehidupan.
Media yang sehat menghadirkan informasi. Literasi membantu masyarakat memahami informasi tersebut. Keduanya kemudian bertemu dalam satu tujuan yang lebih besar, yakni membangun masyarakat yang berpengetahuan, berkeadaban, dan mampu mengambil keputusan secara rasional.
Inilah yang menjadikan gerakan literasi Muhammadiyah relevan dengan tantangan zaman. Literasi tidak berhenti di ruang kelas, perpustakaan, taman baca, atau buku. Literasi juga hadir di ruang redaksi, media sosial, portal berita, komunitas, masjid, sekolah, kampus, hingga ruang-ruang digital tempat masyarakat berinteraksi setiap hari.
Muhammadiyah telah lama menempatkan literasi sebagai bagian dari gerakan pencerahan. Sejumlah kajian tentang gerakan literasi Muhammadiyah juga menempatkan budaya membaca, menulis, dan pengembangan pengetahuan sebagai bagian penting dalam membangun masyarakat ilmu dan peradaban.
Karena itu, Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah bukan sekadar seremoni. Ia menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus informasi, masyarakat membutuhkan media yang mampu menjaga akal sehat, menghadirkan kebenaran, dan menumbuhkan harapan.
Pers yang sehat melahirkan informasi yang sehat. Literasi yang kuat melahirkan masyarakat yang kritis. Dan masyarakat yang tercerahkan menjadi salah satu fondasi penting bagi lahirnya peradaban yang berkemajuan.
PULANGPISAUMU.COM | Membaca, Menulis, Mencerahkan

