Project Sekolah Hijau: Lentera Bahijau Tanamkan Peduli Lingkungan dan Pangan Lokal di Sekolah Inklusif

PALANGKA RAYA, PULANGPISAUMU.COM  — Lembaga Lentera Bahijau – Rumah Baca Bahijau menggelar Project Sekolah Hijau, sebuah inisiatif edukatif dan inklusif yang bertujuan menumbuhkan kepedulian lingkungan sejak dini kepada anak-anak dan remaja. Program ini menyasar dua sekolah di Kota Palangka Raya, yaitu SKH Negeri 2 dan SMP Kristen Palangka Raya, berlangsung selama bulan April hingga Juni 2025.

Project Sekolah Hijau menekankan pentingnya menjadikan sekolah sebagai ruang belajar yang tidak hanya menyampaikan teori, tapi juga membentuk kebiasaan ramah lingkungan melalui praktik nyata. Mulai dari pengenalan pangan lokal, pelestarian gambut, hingga keterlibatan anak-anak penyandang disabilitas, semua menjadi bagian dari pendekatan holistik menuju masa depan yang lebih hijau dan inklusif.

Kegiatan dimulai dengan sosialisasi pada 19–20 Mei, dilanjutkan praktek membuat kompos (22–23 Mei). Pada 10 Juni, para siswa diajak mengenal lebih dekat ekosistem gambut lewat kunjungan edukatif ke Pusat Informasi Gambut Universitas Palangka Raya (PPIIG).

Project Sekolah Hijau dari Lembaga Lentera Bahijau , Rumah Baca Bahijau –  menanamkan kesadaran sejak dini pentingnya menjaga lingkungan (Doc.RBB)

Selanjutnya, siswa di SMP Kristen Palangka Raya mengikuti kegiatan budidaya lidah buaya (11 Juni), sementara di SKH Negeri 2 Palangka Raya, dilaksanakan kegiatan kebun pangan lokal (12 Juni). Program ditutup dengan aksi nyata penghijauan dan penanaman pohon yang dilakukan pada 11–12 Juni 2025.

Pangan Lokal dan Inklusi Disabilitas

Salah satu keunikan dari Project Sekolah Hijau ini adalah pengangkatan pangan lokal sebagai bagian dari edukasi lingkungan. Anak-anak diajak mengenal, menanam, dan mengonsumsi makanan berbasis real food dari bahan-bahan lokal khas Kalimantan Tengah. Selain mengurangi jejak karbon, pendekatan ini juga menanamkan rasa cinta terhadap sumber daya alam daerah.

Yang tak kalah penting, kegiatan ini melibatkan anak-anak disabilitas, memastikan bahwa pendidikan lingkungan benar-benar inklusif dan merangkul semua pihak.

“Sekolah harus menjadi tempat belajar yang sehat, hijau, dan adil untuk semua. Termasuk anak-anak dengan kebutuhan khusus harus diberi ruang untuk terlibat dan berkontribusi,” ujar Yusy Marie, Ketua Lembaga Lentera Bahijau.

Project Sekolah Hijau didukung oleh Yayasan WWF Indonesia sebagai mitra utama, serta mendapatkan dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya, Dinas Pendidikan Provinsi Kalteng, dan Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya.

Dengan pendekatan yang menyentuh aspek lingkungan, sosial, dan budaya lokal, Project Sekolah Hijau diharapkan melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sadar akan pentingnya menjaga kelestarian bumi dan keberlanjutan masa depan.

“Kami berharap kegiatan ini menanamkan rasa memiliki, cinta, dan tanggung jawab terhadap lingkungan sejak usia sekolah,” pungkas Yusy.

Project Sekolah Hijau ini menjadi contoh bagaimana pendidikan bisa menyatu dengan nilai-nilai lingkungan, keberagaman, dan kearifan lokal, mewujudkan sekolah sebagai ruang tumbuhnya generasi masa depan yang hijau, peduli, dan inklusif


Lazismu ramadhan

Bonni Febrian

Menginspirasi dan Menggerakkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *