Buku Kumpulan Puisi ‘Pelukan Ramadan’, Ekspresi Refleksi Spiritual Dua Kader Muda Muhammadiyah

PULANGPISAUMU.COM – Dua kader muda Muhammadiyah, Fathan Faris Saputro dan Nurul Iftiasanti,   meluncurkan buku antologi puisi bertajuk “Sehimpun Puisi Pelukan Ramadan”. Buku ini merupakan kumpulan puisi karya sastra  yang memuat refleksi spiritual dan pengalaman mendalam tentang bulan Ramadan, bulan yang sarat makna bagi umat Islam. Buku ini telah resmi diterbitkan oleh Penerbit Eja publishing.

Dengan 99 judul puisi, “Pelukan Ramadan” memadukan kekayaan bahasa dengan pengalaman spiritual yang dihadapi Faris dan Nurul selama bulan suci Ramadan 1445 Hijriyah.

Sebagai kader Muhammadiyah, keduanya dikenal aktif dalam kegiatan sosial persyarikatan,  Fathan Faris Saputro, yang sudah lama berkecimpung dalam dunia literasi, telah menghasilkan sejumlah tulisan di berbagai media cetak maupun media online dan baru-baru ini telah menghasilkan buku “Luwesitas IMM”  yang mendapat apresiasi dari berbagai kalangan.
Faris begitu biasa disapa adalah kader IMM Lamongan, saat ini mendapat amanah sebagai Koordinator  Divisi Pustaka dan Informasi Majelis Pustaka Informasi dan Digitalisasi PDM Lamongan, Jawa Timur

Sementara , Nurul Iftiasanti adalah kader IMM Pulang Pisau ,juga aktif sebagai relawan Taman Pustaka  KH Ahmad Dahlan yang bergerak dalam berbagai kegiatan literasi di Muhammadiyah Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Ia juga mengabdi sebagai amil di Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Pulang Pisau.

Fathan Faris Saputro mengungkapkan bahwa karya ini lahir dari perjalanan batinnya selama menjalani Ramadan, di mana setiap puisi yang ditulis mencerminkan suasana hati yang terbungkus oleh keheningan dan refleksi diri.

“Puisi-puisi ini adalah ungkapan perasaan saya terhadap Ramadan, yang bukan hanya soal ibadah fisik tetapi juga perenungan spiritual yang mendalam. Kami ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk merajut kembali hubungan dengan Sang Pencipta serta memperbaiki kualitas diri sebagai manusia,” kata Faris.

Sementara itu, Nurul menulis karena terinspirasi dari perjalanan spiritual selama Ramadan, kerinduan akan Ramadan, hal-hal unik yang terjadi selama Ramadan yang dituangkan dalam bentuk tulisan hingga  tersusunlah buku “pelukan Ramadan” yang dirangkai selama satu bulan ketika Ramadan 1445 H.

“Saya ingin menyampaikan bahwa Ramadan bukan hanya ritual tahunan, tapi juga momentum sosial yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Lewat puisi saya mencoba menggambarkan indahnya berbagi, berbuka dengan sederhana dan kegiatan ibadah yang memberikan ketenangan batin” ungkap Nurul.

Ia berharap dengan adanya antologi puisi ini bisa menginspirasi pembaca untuk memaknai setiap momen Ramadan, bukan hanya sebagai rutinitas tahunan, tetapi sebagai kesempatan memperbaiki diri.

“Setiap bait dalam buku ini adalah doa, harapan dan refleksi. Semoga buku ini bisa menjadi sumber bagi semua orang untuk lebih memahami arti dari Ramadan” Imbuh Nurul.

Melalui karya ini, Fathan dan Nurul berharap dapat menginspirasi pembaca untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Kedua penulis ini juga mengungkapkan bahwa proses penulisan buku tersebut berangkat dari keinginan untuk menjadikan literasi sebagai motivasi,  sarana dakwah, serta untuk memperkaya khazanah sastra Indonesia.

Kehadiran antologi ini diharapkan tidak hanya menjadi bacaan inspiratif, tetapi juga menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk selalu menjaga nilai-nilai yang ditanamkan selama bulan Ramadan.

Faris berharap buku ini bisa menjadi sahabat bagi mereka yang sedang mencari kedamaian dan petunjuk di tengah kehidupan yang penuh dengan tantangan,  “Buku ini adalah  karya yang lahir dari hati dan diharapkan bisa menyentuh hati setiap pembacanya” ungkapnya.

Kemudian Nurul juga menceritakan  bahwa “Pelukan Ramadan” adalah buku saya yang pertama kali diterbitkan, ” Saya tidak punya keahlian dalam menulis tetapi saya tertarik dengan tulisan dan bacaan, dari ketertarikan saya itulah yang menghantarkan untuk merangkai bait perbait menjadi rangkaian puisi yang indah,  kedepan saya akan terus belajar menulis dan memperbaiki tulisan-tulisan saya lagi, merangkai kata menjadi kalimat hingga berbentuk buku kembali ”  jelas Nurul yang baru saja diberikan amanah sebagai Pengurus DPD IMM Kalimantan Tengah.

Dengan bahasa yang indah dan penuh makna, “Pelukan Ramadan” berhasil menangkap esensi Ramadan sebagai bulan yang penuh keajaiban dan keberkahan.

Buku Sehimpun puisi “Pelukan Ramadan” tidak hanya sekedar buku puisi , namun juga sebuah perjalanan emosional yang mampu menggugah hati dan memberikan inspirasi kepada pembaca.
Penulis berusaha memberikan rasa syukur, kebahagiaan dan keajaiban selama menjalani ibadah di bulan ramadan. (Bon)

Editor : Bonni febri


Lazismu ramadhan

Bonni Febrian

Menginspirasi dan Menggerakkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *