Ikhtiar Taman Pustaka Perkuat Literasi Relawan Lewat ToT Read Aloud 2025

PULANG PISAU,  PULANGPISAUMU.COM – Relawan Taman Pustaka KH Ahmad Dahlan turut mengikuti kegiatan Training of Trainers (ToT) Read Aloud 2025 yang diselenggarakan oleh Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kalimantan Tengah bekerja sama dengan Read Aloud Kalteng. Pelatihan ini berlangsung secara daring selama dua hari, 29–30 Desember 2025, dan diikuti oleh pengelola TBM serta pegiat literasi dari berbagai kabupaten di Kalimantan Tengah yamg menghadirkan  narasumber Rossie Setiawan founder Reading Bugs/Komunitas Read Aloud Indonesia.

Keikutsertaan relawan Taman Pustaka dalam pelatihan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pendampingan literasi di Pulang Pisau, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan 1.000 buku bacaan bermutu yang telah diterima dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas RI)  tahun sebelumnya.

Ketua Taman Pustaka KH Ahmad Dahlan, Bonni Febrianto, mengatakan bahwa pelatihan membaca nyaring atau read aloud merupakan kebutuhan penting bagi keberlanjutan program literasi, terutama di tengah derasnya arus digital yang memengaruhi kebiasaan membaca anak-anak.

“Melalui read aloud, kita tidak menyuruh anak belajar membaca, tetapi menghadirkan pengalaman yang menyenangkan bersama buku. Ketika anak merasa ditemani dan tidak dipaksa, ketertarikan membaca akan tumbuh dengan sendirinya,” ujarnya.

Menurut Bonni, metode membaca nyaring memberi pengalaman belajar yang bermakna bagi relawan dan pegiat literasi. Read aloud bukan sekadar membacakan teks, tetapi menghadirkan suasana yang membuat anak merasa dekat, nyaman, dan tertarik untuk berinteraksi dengan buku.

Pelatihan Membaca Nyaring bersama Rossie Setiawan Founder Reading Bugs Indonesia (Foto Istimewa)

Ia menilai literasi di Kabupaten Pulang Pisau memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan melalui pendekatan yang lebih humanis dan kontekstual. Praktik membaca nyaring sangat relevan diterapkan di komunitas Taman Pustaka sebagai ruang belajar yang ramah, inklusif, dan menyenangkan.

Bonni juga menegaskan bahwa keberadaan buku fisik masih sangat dibutuhkan di tengah perkembangan teknologi. Namun, pendekatannya tidak lagi dengan memaksa anak membaca, melainkan melalui pendampingan yang dimulai dari lingkungan terdekat, baik keluarga, sekolah, maupun komunitas.

“Saat ini kita tidak bisa lagi hanya menyuruh anak membaca. Yang dibutuhkan adalah kehadiran orang dewasa untuk mendampingi proses membaca itu sendiri,” tambahnya.

Salah satu relawan Taman Pustaka, Nurul Iftiasanti, mengaku mendapatkan banyak manfaat dari pelatihan tersebut. Ia menilai materi yang disampaikan padat, mudah dipahami, dan sangat membantu bagi peserta yang baru mengenal metode membaca nyaring.

“Isi ToT ini benar-benar daging semua. Penjelasannya mudah dipahami, pematerinya handal, dan panitianya super perfect,” ungkapnya.

Nurul berharap pelatihan serupa dapat terus dilaksanakan ke depan. Ia juga berkomitmen akan membagikan ilmu yang diperoleh kepada relawan Taman Pustaka lainnya serta anak-anak yang selama ini selalu antusias dengan hal baru dari Taman Pustaka.

Target Taman Pustaka

Taman Pustaka KH Ahmad dahlan menargetkan pelaksanaan program edukasi dan pendampingan bagi orang tua, guru, relawan, serta pegiat literasi. Pengetahuan dan praktik yang diperoleh dari pelatihan ini diharapkan dapat dibagikan kembali kepada masyarakat agar dampaknya semakin luas.

Melalui partisipasi dalam ToT Read Aloud 2025, Taman Pustaka KH Ahmad Dahlan meneguhkan komitmennya untuk menghadirkan praktik literasi yang bermakna dan berkelanjutan. Dengan pendekatan membaca nyaring yang lebih hangat dan menyenangkan, Taman Pustaka berharap dapat turut menggembirakan literasi,  menguatkan generasi Pulang Pisau yang berkemajuan dan cinta membaca.


Lazismu ramadhan

Bonni Febrian

Menginspirasi dan Menggerakkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *