Jambore Nasional I JATAM: Menandai Etape Panjang Perjalanan Pemberdayaan Pangan Muhammadiyah
KLATEN, PULANGPISAUMU.COM [9/8] Kebumen akan menjadi tuan rumah Jambore Nasional I Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) pada 19–21 September 2025. Acara ini bukan sekadar ajang silaturahmi petani dari berbagai penjuru negeri, melainkan tonggak penting dalam perjalanan panjang Muhammadiyah memberdayakan masyarakat di sektor pangan.
Ketua Panitia Jambore, Wahyudi Nasution, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari gagasan pemberdayaan yang telah tumbuh sejak lahirnya Lembaga Buruh Tani dan Nelayan (LBTN) pada Muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta tahun 2000, yang kemudian berkembang menjadi Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) pada Muktamar ke-45 di Malang tahun 2005.
“JATAM adalah manifestasi gerakan tani berbasis nilai-nilai Islam, keadaban, dan kemandirian. Kita ingin membangun kedaulatan pangan, memperkuat posisi tawar petani, dan mendorong transformasi sosial di desa-desa,” jelas Wahyudi.
Jambore ini juga akan menampilkan inovasi teknologi pertanian dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), mulai dari sistem irigasi hemat air, pupuk organik berbasis mikroba lokal, hingga alat pengolahan hasil pertanian yang efisien. Sejumlah pabrikan alat dan mesin pertanian (alsintan) turut berpartisipasi sebagai sponsor dan mitra.
Kebumen dipilih karena merupakan daerah agraris dengan sejarah panjang gerakan tani dan pemberdayaan komunitas. Jambore ini akan menjadi ajang pertukaran pengalaman, konsolidasi nasional, serta perumusan strategi membangun ekosistem pangan yang adil, mandiri, dan berkelanjutan.
Dalam situasi krisis global, perubahan iklim, hingga ancaman krisis pangan, Muhammadiyah menegaskan peran petani lokal sebagai garda terdepan ketahanan pangan. “Ini bukan sekadar acara, ini adalah panggilan sejarah. Mari berkumpul di Kebumen, hadir sebagai peserta, mitra, sponsor, atau penggembira, membawa dukungan dan doa,” ajak Wahyudi.
Jambore Nasional I JATAM diharapkan menjadi titik persambungan antara sejarah, tantangan hari ini, dan harapan masa depan—menuju kedaulatan pangan umat dan bangsa.


