MDMC se-Kalimantan Susuri Sungai Martapura, Pelajari Potensi Bencana & Kearifan Lokal

BANJARMASIN, PULANGPISAUMU.COM – Sabtu (27/9/2025), rangkaian Bimbingan Teknis (Bimtek) Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) se-Kalimantan memasuki hari keempat dengan kegiatan tadabbur alam berupa susur Sungai Martapura menggunakan perahu kecil atau klotok, sebutan khas masyarakat Kalimantan Selatan.

Kegiatan yang dimulai sejak pukul 06.00 WITA ini memberi kesempatan bagi peserta untuk melihat secara langsung dinamika kehidupan masyarakat yang bermukim di tepian sungai pada pagi hari.

Salah satu peserta asal MDMC Kalimantan Utara, Supardi, mengaku mendapatkan banyak pengalaman berharga dari aktivitas tersebut.

“Melalui susur sungai ini, kami dapat mempelajari potensi risiko bencana di sepanjang aliran sungai. Hal ini menjadi catatan penting agar ke depan bisa mengantisipasi dan menyiapkan langkah-langkah pengurangan risiko bencana,” ujarnya.

Wakil Sekretaris LRB-MDMC PP Muhammadiyah, Budi Santoso, turut menyampaikan kesan positifnya saat menyaksikan langsung aktivitas jual beli di pasar terapung Banjarmasin, salah satu ikon wisata Kalimantan Selatan.
“Susur sungai ini menjadi media pembelajaran bagi para peserta pelatihan MDMC untuk memahami pola hidup masyarakat yang sangat bergantung pada sungai. Karena itu, menjaga kelestarian alam, kebersihan sungai, dan kelestarian hutan menjadi kewajiban agar sumber daya alam tetap memberi manfaat bagi manusia,” jelasnya.

Lebih lanjut, Budi menegaskan bahwa pasar terapung merupakan warisan budaya turun-temurun yang perlu dilestarikan. Aktivitas ekonomi berbasis sungai tersebut bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga menopang perekonomian lokal melalui perdagangan hasil kebun, kerajinan, hingga makanan khas daerah.

Menurutnya, relawan MDMC memiliki peran strategis dalam menjaga kebersihan sungai, mendukung ketahanan pangan, sekaligus memastikan keberlangsungan objek wisata pasar terapung sebagai penggerak ekonomi masyarakat.

“Relawan MDMC juga harus ikut menyuarakan pentingnya menjaga ekosistem sungai dan merancang strategi mitigasi bila terjadi ancaman bencana seperti banjir atau gempa. Dengan begitu, dampak yang ditimbulkan bisa diminimalisir,” katanya.


Lazismu ramadhan

Bonni Febrian

Menginspirasi dan Menggerakkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *