Menghidupi Muhammadiyah atau Mencari Hidup di Muhammadiyah
Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA
PULANGPISAUMU.COM – Pesan yang paling fenomenal dan terkenal dari Kiyai Ahmad Dahlan adalah hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah. Wasiat spritual ini telah banyak ditafsirkan dan diinterpretasikan oleh kader Muhammadiyah baik yang berada di dalam amal usaha Muhammadiyah maupun di luar yang berada di luar AUM.
Dalam pesan tersebut dapat mengkategorikan 5 karakter orang Muhammadiyah yang pertama menghidupi Muhammadiyah, yang kedua mencari hidup di Muhammadiyah, yang ketiga menghidupi sekaligus mencari hidup di Muhammadiyah, yang keempat menghidupi Muhammadiyah sekaligus membuat polemik di Muhammadiyah dan yang kelima mencari hidup di Muhammadiyah sekaligus rusuh problematik di Muhammadiyah. Kelimanya bisa sangat mudah dipahami dan juga bisa sulit untuk dihadapi, tergantung seberapa kuat seseorang itu memiliki nasab atau kolega atau kharisma atau politis maupun juga sikap atas pengaruhnya. Sebenarnya kondisi ini sangat universal, berlaku hampir di semua bentuk organisasi kelembagaan atau institusi apapun itu yang membedakan hanya pada tingkat kemampuan manajemen konflik saja. Sepanjang sejarahnya, persyarikatan Muhammadiyah masih termasuk yang paling rapi, terstruktur dan memiliki tata kelola yang baik.
Selain itu pesan moral hasanah yang disampaikan oleh Kiyai Ahmad Dahlan adalah terkiat dengan yang pada intinya jadilah apa saja dokter, insinyur, dan sebagainya kemudian kembalilah kepada Muhammadiyah. Wasait ini juga sangat mendalam yang juga setiap kader Muhammadiyah banyak ragam dalam memahaminya sesuai dengan keilmuan serta pengalamannya masing-masing.
Pesan ini menggambarkan 3 karakter kategori bermuhammadiyah yakni pertama telah menjadi orang berkarir memiliki profesi baik di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, olahraga dan lainnya kemuliaan kembali berkhidmad kepada Muhammadiyah tidak dengan organisasi islam sejenis lainnya. Yang kedua ketika memiliki karir profesi pekerjaan dan semakin jauh bahkan tidak lagi kembali kepada Muhammadiyah, memilih jalan lain entah berpindah wadah organisasi atau pun hidup bebas independen tanpa wadah ormas islam apapun. Dan yang ketiga telah berkarir dan memiliki profesi, namun tidak bisa sepenuhnya full total kembali ke Muhammadiyah tapi tetap setia dan masih bersama Muhammadiyah sebagai gerakan dakwahnya yang hanya saja waktu terbatas dengan kondisinya.
Hal ini juga memberikan ragam bentuk pola karakter bermuhammadiyah yang intinya juga sama tetap kembali ke Muhammadiyah atau justru tidak sama sekali bertautan lagi dengan Muhammadiyah walaupun telah memiliki sejarah perjalanan serta pengalamannya bermuhammadiyah.
Menghidupi Muhammadiyah dan mencari hidup di Muhammadiyah dengan mizanul hayat adalah sebuah cara yang lebih arif nan bijaksana dalam memahami dua pesan Wasiat Kiyai Ahmad Dahlan soal hidup-hidupilah Muhammadiyah dan soal jadi apa kembali pada Muhammadiyah. Mizanul hayat dalam arti keseimbangan hidup ketika bermuhammadiyah antara menghidupi Muhammadiyah sekaligus mencari kehidupan di Muhammadiyah dengan seimbang, sinkron dan stabil menjalaninya.
Sebab tak bisa dipungkiri bahwa, ketika bermuhammadiyah pasti akan mengalami kondisi tersebut baik menghidupi maupun mencari hidup di Muhammadiyah. Hal itu dikarenakan model dakwah Muhammadiyah itu kombinasi antara organisasi persyarikatan dan juga amal usaha Muhammadiyah, tentu semua memiliki prosedur dan mekanisme sesuai dengan kultur Muhammadiyah. Tidak salah mencari hidup di Muhammadiyah, asalkan aktif setia dan mengikuti alur persyarikatan Muhammadiyah bukan alur ambisi visi pribadi tentunya. Yang menjadi kendala jika mencari hidup di Muhammadiyah tapi justru bertolak belakang, menduakan organisasi, memperlakukan citra atau pun kelewat batas yang sudah sangat akut terhadap Muhammadiyah atau sesama kader Muhammadiyah di dalamnya. Itulah pentingnya bermuhammadiyah dengan Mizanul hayat dalam berorganisasi dan beramal usaha Muhammadiyah.
Menghidupi Muhammadiyah juga merupakan bentuk pengabdian dan pengorbanan paling besar, sebab hidupnya telah memilih untuk berperan lebih banyak membangun Muhammadiyah dari Hulu sampai hilir, dari zero to hero, dari merintis sampai besar dan dari duka sampai penuh suka. Kemampuan menghidupi Muhammadiyah ini tentu tidak semua warga dan kader Muhammadiyah pun dapat melakukan nya, karena umumnya maqam ini adalah kader yang telah selesai dan khatam dari persoalan materi, hajat hidup dan kepentingan individu karena telah kuat mapan serta mandiri. Sehingga tidak lagi berpikir untuk mengambil apapun dari Muhammadiyah, namun lebih banyak memberi tanah di atas untuk keberlanjutan dan pembangunan organisasi Muhammadiyah. Berbeda halnya dengan kondisi yang mencari hidup di Muhammadiyah, lantas bukan berarti salah atau hina selama jalannya bermuhammadiyah baik dan benar sesuai koridor khittah. Dalam mencari hidup di Muhammadiyah tentu ada etika, akhlak dan adabnya agar tidak tabrakan sana tabrak sini apalagi sesuka hati dnegan keegoisan diri. Yang jelas setiap langkahnya merupakan bentuk amal bakti kepada Muhammadiyah sebagai jalan dakwahnya.
Tetaplah mengamalkan mizanul hayat ketika bermuhammadiyah baik itu dalam posisi menghidupi Muhammadiyah maupun dalam peran mencari hidup di Muhammadiyah dengan sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya. Karena ini merupakan organisasi islam yang berlandaskan pada agama islam, Al Qur’an, as Sunnah, wahyu dan juga kalam ilahi. Jangan sampai tidak memiliki mizanul hayat dalam bermuhammadiyah, sebab keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat dalam menghidupi Muhammadiyah dan mencari hidup di Muhammadiyah tentu dengan cara mizanul hayat yang lurus, ihsan dan sohih. Karena ada atau tidaknya posisi baik di dalam Muhammadiyah ataupun di luar amal usaha Muhammadiyah, semua dapat memberikan pengorbanan, pengabdian dan pengalamannya demi membesarkan persyarikatan. Ke depan tidak perlu lagi sampai pada titik kontra produktif dalam persoalan-persoalan menghidupi atau mencari hidup lagi di Muhammadiyah, jika telah paham soal mizanul hayat ketika bermuhammadiyah yang Insya Allah jalan keselamatan, kemudahan dan keberlahan hidup di dunia maupun di akhirat bersama persyarikatan Muhammadiyah yang tercinta ini.
As’ad Bukhari, S.Sos., MA | Analis Intelektual Muhammadiyah Islam Berkemajuan
Editor: Bonni Febri

