Merawat Jejak Gerakan, Membangun Peradaban

Oleh: Bonni Febrian
Pegiat Literasi, Founder Taman Pustaka KH Ahmad Dahlan, Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PDM Pulang Pisau

Ada banyak cara untuk ikut bergerak bersama Muhammadiyah.Ada yang bergerak melalui pendidikan, kesehatan, filantropi, pelayanan sosial, pengaderan, dakwah, dan berbagai amal usaha. Ada pula yang mengambil bagian dengan cara yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya memiliki arti penting: mencatat dan memberitakan gerakan.

Sebab, gerakan yang tidak dicatat akan mudah dilupakan.

Kegiatan yang hari ini dianggap biasa, beberapa tahun kemudian bisa menjadi bagian penting dari sejarah. Nama seorang kader, perjuangan seorang guru, kerja relawan, gerakan Lazismu, aktivitas MDMC, pengajian di masjid, kegiatan organisasi otonom, hingga berbagai ikhtiar kecil di tengah masyarakat, semuanya memiliki cerita.

Pertanyaannya kemudian: siapa yang akan menceritakannya?

Di sinilah jurnalistik menemukan maknanya bagi Muhammadiyah.

Jurnalistik bukan sekadar kegiatan mencari, mengolah, dan menyampaikan informasi kepada orang lain. Dalam konteks Persyarikatan, jurnalistik dapat menjadi bagian dari dakwah bil qalam, dakwah digital, sekaligus ikhtiar membangun peradaban melalui pengetahuan.

Menulis sambil belajar, belajar sambil menulis

Beberapa hari lalu, saya berkesempatan berbagi pengalaman dalam Pelatihan Jurnalistik Dakwah yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Tengah.

Kegiatan yang mengusung tema “Membangun Gerakan Media Dakwah, Menguatkan Narasi dan Gagasan” tersebut bukan sekadar pelatihan teknis menulis berita. Kegiatan itu diarahkan untuk menyiapkan kader yang mampu melihat peristiwa, menggali informasi, melakukan wawancara, menulis, dan menghadirkan gagasan melalui ruang digital.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Tengah, Yandi Novia, menyebut penguatan jurnalistik sebagai bagian dari upaya membangun kultur intelektual di lingkungan Muhammadiyah.

Menurutnya, kader tidak cukup hanya menjadi konsumen informasi, tetapi perlu mampu memproduksi dan menyebarkan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Ia juga berharap pelatihan tersebut tidak berhenti pada kemampuan teknis menulis berita, melainkan menjadi awal tumbuhnya tradisi jurnalistik di lingkungan Muhammadiyah Kalimantan Tengah.

“Kader harus berani menyampaikan gagasan, mengangkat berbagai persoalan masyarakat, sekaligus menghadirkan narasi yang mencerahkan dan mencerdaskan,” ujarnya

Bagi saya, kalimat tersebut penting.

Sebab tradisi jurnalistik memang tidak lahir hanya karena seseorang mengikuti pelatihan. Ia tumbuh karena adanya kebiasaan membaca peristiwa, mencatat gerakan, bertanya, menulis, dan terus mengulanginya.

Itulah mengapa saya selalu mengatakan: menulis sambil belajar, belajar sambil menulis.

Tidak harus menunggu menjadi wartawan profesional untuk mulai menulis.Tidak harus menunggu memiliki kamera mahal.Tidak harus menunggu memiliki laptop.

Hari ini, sebuah telepon pintar sudah cukup untuk mulai melihat, mencatat, memotret, mewawancarai, dan menulis.

Yang lebih penting adalah kemauan untuk memperhatikan.

Ketika Muhammadiyah bergerak, kita perlu menceritakannya

Muhammadiyah sebenarnya tidak pernah kekurangan bahan cerita.

Persyarikatan ini memiliki sekolah, pesantren, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, masjid, lembaga filantropi, organisasi otonom, komunitas, kader, relawan, dan berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan.

Di tingkat daerah pun gerakan itu hadir setiap hari.

Ada rapat yang menghasilkan keputusan. Ada kader yang bekerja dalam diam. Ada guru yang bertahun-tahun mengabdi. Ada relawan yang turun ketika bencana datang. Ada Lazismu yang menghimpun dan menyalurkan dana umat. Ada MDMC yang bergerak menghadapi bencana. Ada ’Aisyiyah dengan gerakan pemberdayaannya. Ada Pemuda Muhammadiyah dan IMM yang terus melakukan pengaderan.

Semua itu adalah bahan jurnalistik, tinggal bagaimana kita melihatnya

Karena tidak semua yang menarik itu penting. Dan tidak semua yang penting langsung terlihat menarik.

Seorang penulis atau pewarta Muhammadiyah perlu belajar menemukan cerita di balik kegiatan.

Jangan hanya bertanya, “Apa kegiatannya?”

Tetapi juga:

Apa yang terjadi?

Mengapa kegiatan itu dilakukan?

Siapa yang terlibat?

Siapa yang menerima manfaat?

Apa persoalan yang akan dijawab?

Apa yang berubah setelah kegiatan itu dilakukan?

Dari pertanyaan sederhana itulah sebuah kegiatan dapat berubah menjadi cerita yang memiliki makna.

Dokumentasi bukan sekadar foto

Sering kali kita menghadiri kegiatan Muhammadiyah, mengambil beberapa foto, kemudian mengunggahnya ke media sosial.

Itu penting. Tetapi dokumentasi tidak berhenti pada foto.

Sebuah foto mungkin hanya menjelaskan bahwa hari ini ada kegiatan. Namun tulisan dapat menjelaskan mengapa kegiatan itu dilakukan, siapa yang menginisiasi, apa persoalannya, bagaimana prosesnya, dan apa manfaatnya bagi masyarakat.

Karena itu, ketika meliput kegiatan Muhammadiyah, jangan hanya berpikir:

“Saya harus mendapatkan foto.”

Tetapi biasakan bertanya : “Apa cerita menarik dari kegiatan ini?”

Dari sana kita mulai mencari informasi, cerita, gagasan, dan manfaat.

Berita hari ini adalah arsip untuk masa depan

Ada satu hal yang menurut saya sangat penting dalam aktivitas jurnalistik Muhammadiyah: berita bukan hanya untuk pembaca hari ini.

Kita mungkin menulis sebuah berita karena ada kegiatan yang berlangsung pagi tadi.

Tetapi sesungguhnya kita sedang membangun arsip digital untuk anak cucu.

Berita adalah rekam peristiwa. Berita adalah dokumen. Berita adalah bagian dari memori kolektif.

Berita tentang sebuah sekolah Muhammadiyah yang hari ini tampak sederhana, misalnya, suatu saat dapat menjadi sumber untuk mengetahui perjalanan pendidikan Muhammadiyah di sebuah daerah.

Berita tentang seorang kader dapat menjadi catatan tentang regenerasi.

Berita tentang Lazismu dapat menjadi bagian dari sejarah filantropi.

Berita tentang MDMC dapat menjadi rekaman perjalanan kemanusiaan.

Dan berita tentang sebuah keputusan organisasi dapat membantu generasi berikutnya memahami bagaimana Muhammadiyah bekerja pada suatu zaman.

Karena itu, menulis bukan hanya memberitakan hari ini, tetapi juga merawat jejak gerakan untuk hari esok.

Tradisi pers bukan hal baru bagi Muhammadiyah

Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam menggunakan media sebagai sarana dakwah dan penyebaran gagasan.

Suara Muhammadiyah pertama kali terbit pada 13 Agustus 1915. Tanggal tersebut bahkan telah diusulkan sebagai Hari Pers dan Literasi Publik Muhammadiyah. Dalam sejarahnya, media tersebut tidak hanya menjadi sarana menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi ruang penyebaran gagasan, pendidikan, dakwah, dan perkembangan Persyarikatan.

Lebih dari satu abad kemudian, medan komunikasinya berubah.

Dulu orang menunggu majalah atau surat kabar. Sekarang informasi hadir melalui mesin pencari, media sosial, platform video, situs berita, dan bahkan kecerdasan buatan atau AI.

Perubahan ini membuat tugas jurnalistik semakin penting.

Muhammadiyah tidak cukup hanya memiliki gerakan yang nyata. Gerakan tersebut juga perlu hadir dalam ruang pengetahuan publik.

Sebab, sesuatu yang tidak terdokumentasi dengan baik akan semakin sulit ditemukan, dipahami, dan diwariskan.

Jurnalis berkemajuan, produk mencerdaskan

Karena itu, jurnalistik Muhammadiyah menurut saya memiliki tanggung jawab lebih dari sekadar menghasilkan berita.

Jurnalisnya harus berkemajuan.

Produknya mencerdaskan.

Narasinya mencerahkan.

Kecepatan tetap penting, tetapi jangan sampai kecepatan mengalahkan ketepatan. Kritik boleh disampaikan, tetapi tetap konstruktif,  perbedaan pandangan boleh diberitakan, tetapi tidak perlu dikemas menjadi konflik yang tidak perlu.

Sederhana saja prinsipnya: akurat, berimbang, mudah dipahami, dan bermanfaat.

Dari publikasi menuju ekosistem pengetahuan

Karena itu, media Muhammadiyah ke depan tidak semestinya dipahami hanya sebagai tempat memasang berita.

Media harus menjadi bagian dari ekosistem pengetahuan Persyarikatan.

Ada begitu banyak pengetahuan yang lahir dari Muhammadiyah: dari sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga, majelis, organisasi otonom, komunitas, hingga aktivitas kader di akar rumput.

Semua itu perlu dicatat, diolah, disebarkan, dan diarsipkan.

Di sinilah media memiliki fungsi strategis.

Bukan sekadar mengejar traffic, tetapi membangun kredibilitas.

Bukan hanya mengejar viral, tetapi membangun rujukan.

Bukan sekadar memenuhi target publikasi, tetapi membangun jejak digital yang dapat ditemukan dan dimanfaatkan generasi berikutnya.

Media daerah memberitakan gerakan daerah.

Media organisasi otonom memberitakan aktivitas kadernya.

Media lembaga mengabarkan program dan gagasannya.

Semua kemudian menjadi bagian dari mozaik besar informasi Muhammadiyah.

Suluh Peradaban dan harapan baru dari Kalimantan Tengah

Karena itu pula, saya menyambut baik lahirnya SuluhPeradaban.id sebagai media online dakwah Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Tengah.

Peluncurannya pada  27 September 2026 menjadi ikhtiar penting untuk menghadirkan ruang baru bagi informasi, gagasan, dan dakwah di tengah perubahan lanskap media digital.

 

 

Penulis saat memberilan materi pada Pelatihan Jurnalistik Dakwah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Tengah di Palangka Raya (Foto Istimewa)

SuluhPeradaban.id membawa semangat “Oase Dakwah, Sejuk Mencerahkan.” Semangat itu sejalan dengan kebutuhan ruang digital kita hari ini: ruang yang tidak hanya ramai, tetapi juga memberi kesejukan; tidak hanya menyampaikan kabar, tetapi juga menghadirkan pengetahuan dan gagasan.

Bagi saya, yang menarik bukan hanya lahirnya sebuah website baru, yang lebih penting adalah tumbuhnya tradisi.

Tradisi untuk membaca peristiwa.

Tradisi untuk bertanya.

Tradisi untuk menulis.

Tradisi untuk berdiskusi.

Tradisi untuk menyampaikan gagasan.

Dan tradisi untuk mendokumentasikan gerakan.

Tentu sebuah media baru tidak langsung menjadi besar.

Ia membutuhkan kontributor, editor, pembaca. Dan yang tidak kalah penting, ia membutuhkan konsistensi dan elosistem yang mendukung.

Tetapi setiap media besar selalu bermula dari satu langkah kecil.

Begitu pula tradisi jurnalistik.

Pada akhirnya, saya melihat jurnalistik Muhammadiyah sebagai bagian dari ikhtiar sederhana untuk memastikan bahwa gerakan ini tidak berjalan tanpa jejak.

Ketika Muhammadiyah bergerak, kita mencatat.

Ketika kader berjuang, kita menceritakan.

Ketika masyarakat menerima manfaat, kita kabarkan.

Ketika muncul persoalan, kita bantu menghadirkan perspektif.

Ketika lahir gagasan, kita sebarkan.

Dan ketika sebuah kegiatan selesai, kita tidak membiarkannya hilang begitu saja dari ingatan.

Sebab menulis itu merawat nalar, merawat pengetahuan, dan mengabadikan amal saleh.

Kita tidak pernah tahu tulisan mana yang kelak dibaca oleh seseorang sepuluh, dua puluh, bahkan lima puluh tahun mendatang.

Bisa jadi tulisan sederhana hari ini menjadi sumber bagi seseorang yang ingin mengetahui bagaimana Muhammadiyah tumbuh di sebuah daerah.

Bisa jadi foto yang kita ambil hari ini menjadi satu-satunya dokumentasi tentang sebuah kegiatan.

Bisa jadi berita yang kita tulis hari ini menjadi potongan kecil dari sejarah besar Persyarikatan.

Maka jangan meremehkan tulisan sederhana.

Jika dilakukan terus-menerus, ia akan menjadi tradisi.

Jika tradisi dirawat bersama, ia akan menjadi budaya.Dan jika budaya itu menghasilkan pengetahuan yang terus diwariskan, di situlah jurnalistik ikut mengambil bagian dalam membangun peradaban.

Selamat atas diluncurkannya SuluhPeradaban.id.  Semoga menjadi ruang yang terus tumbuh untuk mengabarkan gerakan, merawat gagasan, menyebarkan hikmah, dan menghadirkan narasi dakwah yang sejuk, terbuka, mencerdaskan, dan mencerahkan.

Dari Kalimantan Tengah, semoga suluh kecil ini terus menyala menjadi oase dakwah di tengah derasnya arus informasi.

Jurnalisnya berkemajuan.
Produknya mencerdaskan.
Narasinya mencerahkan.

Muhammadiyah bergerak, kita ceritakan.
Muhammadiyah berbuat, kita abadikan.


Lazismu ramadhan

Bonni Febrian

Menginspirasi dan Menggerakkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *