Relasi Akal dan Wahyu Dalam Pandangan Islam

Relasi Akal dan Wahyu dalam Pandangan Islam

Oleh : Andilau

 

Manusia dalam kedudukannya, memiliki kedudukan yang khusus dalam penciptaanya. Dimana manusia memiliki kelebihan dari makhluk yang lain, yaitu berupa akal. Akal yang telah allah anugrahkan pada manusia menjadikan manusia mampu berpikir, memilih, mempertimbangkan, menentukan jalan pikiran dan perbuatan sendiri. Tujuan allah memberikan aakal kepada manusia tidak lain adalah karena manusia diberikan amant yang begitu besar yaitu menjadi khalifah di muka bumi yang berpedoman kepada kitab yang telah diturunkan kepada rasulnya. Dalam hal ini akal menjadi hal yang penting dalam memahami ayat kauniyah dan ayat-ayat qauliyah alquran sebagai wahyu.

Pengertian Akal

Harun Nasution didalam bukunya akal dan wahyu dalam islam Kata akal berasal dari Bahasa arab al-aql, Menurut Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arab, kata al-‘aql mempunyai persamaan dengan kata al-hijr (الحِجْر) berarti menahan, mencegah atau mengikat dan an-nuha (النُّهى) berarti kepintaran yang merupakan antonim dari kata al-humq (الحُمْق) yang berarti bodoh, dungu. Kata al-‘aql dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 49 kali, dan di dalam al-Qur’an hanya membawa bentuk kata kerjanya ‘aqaluh dalam satu ayat, ta’qilun 24 ayat, na’qil 1 ayat, ya’qiluha 1 ayat dan ya’qilun 22 ayat. Kata-kata itu datang dalam arti faham dan mengerti. Secara keseluruhan dapat diartikan akal ialah sebuah alat yang dapat digunakan untuk membedakan antara baik dan buruk, dapat menerima ilmu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, serta sebagai penghalang terjatuhnya kesalahan dan dosa.

Kedudukan Akal Dalam Islam
Akal mempunyai kedudukan yang tinggi dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu Allah SWT telah berfirman dalam surah Al-Isra ayat 70 :

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

Pengertian Wahyu

Menurut Jujun S. Suriasumantri didalam buku Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer menjelaskan bahwa wahyu berasal dari kata Arab al-Wahy, dan al-Wahy adalah kata asli Arab dan bukan kata pinjaman dari bahasa asing. Kata ini berarti suara, api dan kecepatan. secara bahasa artinya adalah, pemberitahuan secara rahasia nan cepat. Secara syar’i, wahyu berarti pemberitahuan dari Allah kepada para Nabi dan para Rasulnya tentang syari’at atau kitab yang hendak disampaikan kepada mereka, baik dengan perantara atau tanpa perantara. Wahyu secara syar’i ini jelas lebih khusus, dibandingkan dengan makna wahyu secara bahasa, baik ditinjau dari sumbernya, sasarannya maupun isinya. Berikut adalah macam-macam wahyu secara syar’i :


1. Taklimullah, Allah Azza wa Jalla berbicara langsung kepada NabiNya dari belakang hijab. Yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan apa yang hendak Dia sampaikan, baik dalam keadaan terjaga maupun dalam keadaan tidur. Seperti firman allah swt dalam surah an-nissa ayat 164 :

وَكَلَّمَ ٱللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا
..Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” [an Nisaa`/4 : 164].

2. Allah Azza wa Jalla menyampaikan risalahnya melalui perantaraan Malaikat Jibril, dan ini meliputi beberapa cara, yaitu : Malaikat Jibril menampakkan diri dalam wujud aslinya atau datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam wujud seorang lelaki. Dalam menampakkan wujud aslinya, malaikat Jibril alaihi salam hanya menampakkan wujud aslinya dua kali yaitu saat Malaikat Jibril mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah masa vakum dari wahyu, yaitu setelah Surat al ‘Alaq diturunkan, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menerima wahyu beberapa saat. Masa ini disebut masa fatrah, artinya kevakuman. Kedua, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Malaikat Jibril dalam wujud aslinya, yaitu saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dimi’rajkan.

3. Malaikat Jibril mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun ia tidak terlihat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kedatangan Malaikat Jibril dengan suara yang mengirinya. Terkadang seperti suara lonceng, dan terkadang seperti dengung lebah. Inilah yang terberat bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga dilukiskan saat menerima wahyu seperti ini, wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah. Meski pada cuaca yang sangat dingin, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermandikan keringat, dan pada saat itu bobot fisik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah secara mendadak.

Fungsi Wahyu

Wahyu memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, yaitu membenarkan atau meluruskan hal-hal yang sedang dihadapi manusia, berupa syariat dan larangan.

Relasi akal dan wahyu:

1. Menjadi syarat penting dalam memahami wahyu allah
Akal menjadi syarat dalam memahami firman allah swt yaitu, berupa wahyu yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW berupa kitab alquran. Syaikh Islam Ibnu Taimiyah mengatakan :

“Akal merupakan syarat dalam mempelajari semua ilmu. Ia juga syarat untuk menjadikan semua amalan itu baik dan sempurna, dan dengannya ilmu dan amal menjadi lengkap. Namun, (untuk mencapai itu semua), akal bukanlah sesuatu yang dapat berdiri sendiri, tapi akal merupakan kemampuan dan kekuatan dalam diri seseorang, sebagaimana kemampuan melihat yang ada pada mata. Maka apabila akal itu terhubung dengan cahaya iman dan Al-Qur’an, maka itu ibarat cahaya mata yang terhubung dengan cahaya matahari atau api.” (Majmu’ul Fatawa, 3/338).

2. Menjadi sarana untuk memahami kebenaran wahyu Allah swt.
Akal merupakan sarana untuk memahami kebenaran. Tidak sedikit ayat-ayat dalam Al-Quran yang menegaskan bahwa akal merupakan sarana untuk memahami kebenaran mutlak dari Allah. Umumnya kalimat yang digunakan adalah afala ta’qilun (tidakkah kamu berpikir/tidakkah kamu memikirkannya). Salah satu ayat yang dimaksud adalah surat Al-Baqarah ayat 44 yang artinya,
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?”

3. Menjadi sarana untuk berpikir
Akal digunakan sebagai sarana untuk berpikir, Adapun yang menjadi objek kajiannya adalah wahyu allah berupa ayat-ayat kauniyah. Terdapat lebih dari 750 ayat dalam al-Qur’an yang menunjukkan agar manusia diminta untuk dapat memikirkan berbagai gejala alam sebagai upaya untuk lebih mengenal Tuhan melalui tanda-tanda-Nya. Salah satu ayat yang dimaksud adalah surat Al-Baqarah ayat 164 yang artinya :

”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi dan segala jenis hewan, dan pengisaran angina dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”


Akal dan wahyu itu saling membutuhkan satu sama lain, Allah SWT memberi akal kepada manusia merupakan sebuah wujud kasih sayang dan anugerahnya supaya manusia dapat membedakan yang mana yang merupakan kebenaran dan yang mana yang merupakan kebathilan. Dan wahyu yang berasal dari Allah merupakan pedoman sekaligus petunjuk dalam mencapai kebenaran dan melangkah dijalan yang lurus.

Keduanya tidak tepat apabila diletakkan secara stuktural, akal lebih tinggi dari wahyu atau sebaliknya tetapi lebih tepatnya diletakkan secara fungsional akal sebagai alat untuk memahami wahyu agar hambanya tidak salah kaprah dalam mengartikan wahyu dan wahyu memiliki fungsi sebagai petunjuk dan pedoman apabila ditafsirkan atau dijabarkan dengan pemahaman akal yang benar dan bisa mencelakakan individu maupun kelompok jikalau memahaminya kurang benar dan tidak sesuai kontek. Contoh ada ayat Al Quran tentang apabila bertemu orang kafir maka penggallah kepalanya apabila pemahaman wahyu tanpa dijabarkan dengan pemahaman akal dan konteks yang benar maka akan terjadi kekeliruan dalam memahaminya yang berakibat fatal baik untuk individu maupun jama’ah.

Wallahu A’lam


Andilau , Da’i Lembaga Dakwah Khusus  dari Pondok Shobron UM Surakarta,  yang sedang menjalankan pengabdian di PDM Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.


Lazismu ramadhan

Bonni Febrian

Menginspirasi dan Menggerakkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *