Salat Gerhana di Masjid KH Ahmad Dahlan, Momentum Muhasabah di Bulan Ramadan

PULANG PISAU, PULANGPISAUMU.COM – Masjid KH Ahmad Dahlan Pulang Pisau melaksanakan Salat Gerhana Bulan pada Selasa malam (3/3/2026) bertepatan dengan 14 Ramadan 1447 Hijriah. Kegiatan ibadah ini dilaksanakan mengikuti Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid tentang pelaksanaan Salat Gerhana Bulan Total di seluruh wilayah Indonesia.

Salat gerhana diikuti jamaah dengan penuh kekhusyukan dan ketertiban. Pelaksanaan salat dilakukan setelah Salat Maghrib berjamaah.

Sebelum salat dimulai, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pulang Pisau, Najmuddin, menyampaikan pengantar dan penjelasan singkat mengenai tata cara pelaksanaan Salat Gerhana sesuai tuntunan Rasulullah saw., agar jamaah dapat melaksanakannya dengan benar dan sesuai sunnah.

Bertindak sebagai imam dalam salat gerhana tersebut adalah Salman Alfarisi, sementara khutbah Salat Gerhana disampaikan oleh Ketua Takmir Masjid KH Ahmad Dahlan, Yulianto.

Pelaksanaan salat dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah saw., yakni dua rakaat dengan empat kali rukuk, dilanjutkan khutbah dan doa bersama sebagai bentuk ibadah dan refleksi spiritual atas fenomena alam yang terjadi.

Pelaksanaan salat gerhana di Masjid KH Ahmad Dahlan (Foto Istimewa)

 

Gerhana sebagai Tanda Kebesaran Allah

Dalam khutbahnya,  Yulianto menjelaskan bahwa gerhana bulan merupakan fenomena alam yang menunjukkan keteraturan ciptaan Allah SWT. Secara ilmiah, gerhana terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan sehingga cahaya matahari tidak sepenuhnya mencapai permukaan bulan.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa dalam pandangan Islam, gerhana bukan sekadar peristiwa astronomi, melainkan tanda kebesaran Allah yang mengajak manusia untuk meningkatkan keimanan.

Ia mengutip firman Allah dalam Surah Yasin ayat 38 yang menjelaskan bahwa peredaran benda langit berjalan sesuai ketetapan Allah Yang Maha perkasa lagi Maha Mengetahui.

Selain itu, ia juga menyampaikan hadis Rasulullah saw. yang menegaskan bahwa matahari dan bulan merupakan tanda kekuasaan Allah dan tidak mengalami gerhana karena kelahiran ataupun kematian seseorang. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, zikir, salat, dan sedekah saat gerhana terjadi.

Momentum Introspeksi Diri

Yulianto mengajak jamaah menjadikan peristiwa gerhana sebagai momentum muhasabah atau introspeksi diri. Ia menggambarkan gerhana sebagai simbol perjalanan iman manusia.

“Seperti bulan yang sesekali tertutup bayangan, kehidupan manusia juga tidak lepas dari ujian. Namun setelah gelap, cahaya akan kembali hadir. Begitu pula iman, yang harus terus dijaga agar kembali bersinar,” ujarnya dalam khutbah.

Ia juga mengingatkan kisah pada masa Rasulullah saw. ketika gerhana terjadi bersamaan dengan wafatnya putra Nabi, Ibrahim. Rasulullah meluruskan anggapan masyarakat agar tidak mengaitkan fenomena alam dengan mitos atau pertanda tertentu.

Maklumat PP Muhammadiyah

Pelaksanaan salat gerhana ini merujuk pada Maklumat Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Nomor 01/MLM/I.1/E/2026 tentang Gerhana Bulan Total pada 14 Ramadan 1447 H atau 3 Maret 2026.

Dalam maklumat tersebut dijelaskan bahwa gerhana bulan total melintasi seluruh wilayah Indonesia, dengan puncak gerhana terjadi pada pukul 18.33.37 WIB, 19.33.37 WITA, dan 20.33.37 WIT. Muhammadiyah mengimbau umat Islam untuk melaksanakan salat gerhana sebagai bentuk ketaatan dan penghambaan kepada Allah SWT.

Pelaksanaan salat gerhana ini sekaligus menjadi sarana edukasi keagamaan bagi masyarakat agar memahami fenomena alam melalui pendekatan ilmu pengetahuan sekaligus nilai-nilai keimanan.


Lazismu ramadhan

Bonni Febrian

Menginspirasi dan Menggerakkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *