Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq: Lazismu Jadi Teladan Gerakan Sosial Berbasis Pendidikan dan Keumatan
BANJARBARU, PULANGPISAUMU.COM – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI, Fajar Riza Ul Haq, menyampaikan apresiasi tinggi kepada Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) atas kontribusinya yang nyata dalam kerja-kerja kemanusiaan, pendidikan, dan pemberdayaan sosial, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Hal tersebut disampaikan pada Grand launching Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lazismu 2026 di Lapangan Murjani, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Jumat malam, 7 November 2025 dengan mengusung tema “Penguatan Inovasi Sosial yang Terintegrasi, Berdampak, dan Berkemajuan”.
Dalam sambutannya Fajar menilai Lazismu telah berperan penting dalam diplomasi kemanusiaan dan memperkuat solidaritas Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina.
“Saya bangga dengan kiprah Lazismu yang ikut ambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan Palestina. Lazismu menunjukkan bahwa filantropi Islam Indonesia hadir nyata di pentas global,” ujarnya.
Selain kiprah internasional, Wamendikdasmen juga menyoroti kerja-kerja Lazismu yang menjangkau wilayah 3T dan daerah marginal, termasuk di Papua, yang menjadi bukti kuat peran Lazismu dalam dakwah sosial dan pendidikan. Ia mencontohkan pendirian TK ABA di Pulau Arar, Sorong , Papua Barat, daerah terpencil yang kini mendapat layanan pendidikan berkat inisiatif Aisyiyah dan Lazismu.
“Jangkauan dakwah Muhammadiyah dan Lazismu benar-benar luar biasa, hingga ke pelosok negeri yang sulit dijangkau negara,” tambahnya.
Fajar juga menilai pelaksanaan Rakernas di Banjarbaru memiliki makna historis karena bertepatan dengan 100 tahun kiprah Muhammadiyah di Kalimantan Selatan sejak tahun 1925. Ia berharap momentum ini memperkuat semangat dakwah dan filantropi Muhammadiyah untuk kemajuan bangsa.
Terkait capaian penghimpunan dana Lazismu yang mencapai Rp533 miliar pada 2025, Fajar optimistis target Rp1 triliun ke depan bisa tercapai melalui kolaborasi dan inovasi sosial.
“Target Rp1 triliun bukan hal yang mustahil. Kuncinya kolaborasi, kerja keras, dan dukungan semua pihak,” katanya.
Ia menekankan pentingnya tajdid sosial atau inovasi sosial terintegrasi agar Lazismu tetap relevan dengan generasi muda (Gen Z dan Alpha) yang kini mendominasi populasi Indonesia. Menurutnya, generasi muda lebih tergerak oleh nilai dan dampak daripada hierarki organisasi, sehingga pendekatan filantropi perlu beradaptasi dengan era digital.
“Sebanyak 70 persen dana Lazismu kini dihimpun secara digital. Ini bukti perubahan perilaku donatur yang menuntut transparansi dan kemudahan,” jelasnya.
Dalam konteks pendidikan, Fajar juga menyoroti kolaborasi antara pemerintah dan organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah dalam revitalisasi sekolah dan kesejahteraan peserta didik. Ia mengapresiasi langkah Lazismu yang turut merehabilitasi sekolah di Bandung Barat pascagempa, menunjukkan semangat ta’awun dan gotong royong dalam dunia pendidikan.
“Tujuan pendidikan nasional tak mungkin dicapai sendirian. Pemerintah dan masyarakat harus bersinergi, saling menguatkan,” tuturnya.
Menutup sambutannya, Fajar menyampaikan selamat atas keberhasilan Lazismu meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama tujuh tahun berturut-turut. Menurutnya, capaian itu menunjukkan kredibilitas, akuntabilitas, dan kepercayaan publik terhadap lembaga filantropi Muhammadiyah tersebut.
“Lazismu adalah lembaga terpercaya dengan akuntabilitas tinggi. Insyaallah setiap kebaikan yang ditanamkan akan tumbuh menjadi amal jariah yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Selain menjadi ajang konsolidasi nasional, Rakernas 2026 juga diharapkan memperkuat jaringan kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat sipil untuk menjawab tantangan kemiskinan, ketimpangan pendidikan, serta krisis nilai sosial di era digital.

