Dari Al-Jihad Banjarmasin, Abdul Mu’ti Serukan Revitalisasi Masjid untuk Era Generasi Muda
BANJARMASIN, PULANGPISAUMU.COM – Mendikdasmen RI Abdul Mu’ti hadir dalam gelaran CRM Award VI LPCRPM di Masjid Al-Jihad Banjarmasin, Kamis malam (14/11/2025). Acara bertajuk tabligh akbar yang berlangsung setelah salat Isya’ itu menarik sekitar 15 ribu jamaah, termasuk para pelajar. Kegiatan diawali dengan pembacaan Deklarasi Pelajaran Cinta Masjid dan Quran.
Dalam ceramahnya, Abdul Mu’ti menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan LPCRPM serta kemakmuran Masjid Al-Jihad. “Masjid ini contoh yang makmur dan memakmurkan,” ungkapnya. Ia juga mengingatkan komitmen kerja sama LPCRPM dengan Kemendikdasmen untuk memperkuat layanan pendidikan di wilayah 3T, sebagaimana pernah ia sampaikan pada CRM Award tahun lalu di Palembang. “Layanan pendidikan yang baik menjadi syarat lahirnya generasi unggul,” tegasnya.
Terkait kondisi masjid hari ini, Abdul Mu’ti menyoroti banyaknya masjid tua—baik bangunan maupun jamaahnya. “Ini harus diubah,” ujarnya. Ia mendorong pengelolaan masjid yang lebih ramah bagi difabel, lansia, dan anak muda, misalnya dengan menyediakan tempat wudhu duduk, kacamata baca, kursi dan sandaran untuk jamaah senior, hingga fasilitas seperti wifi dan kafe.
Mas Menteri menjelaskan, generasi Z dan Alpha sebenarnya tidak mengalami penurunan dalam ritual keagamaan dan masih menganggap agama penting. Namun ketergantungan digital membuat keagamaan mereka sangat individualistik. Fenomena ini ia sebut sebagai degenerasi diniyah, yaitu keterputusan antara keberagamaan dan kehidupan sosial. “Dalam bulan November saja, ada enam kasus siswa bunuh diri karena jauh dari agama,” ungkapnya, merujuk pada tingginya kecemasan yang dipicu perundungan di media sosial.
Jika dibiarkan, lanjutnya, fenomena ini bisa menyerupai kondisi Eropa yang kini ditandai gereja-gereja kosong. Sebagian bahkan dijual dan beralih fungsi menjadi masjid. Di Indonesia, fenomena ini selaras dengan gagasan Kuntowijoyo tentang ‘Muslim Tanpa Masjid’—generasi yang mampu membaca Al-Quran tetapi tidak lagi hadir di masjid atau belajar pada ulama. “Mereka belajar agama dari internet, mencari pembenaran, bukan kebenaran,” kata Abdul Mu’ti.
Ia menegaskan, masjid harus menjadi rumah bagi generasi muda. Namun sebelum mengajak mereka kembali, masjid harus lebih adaptif dan dikelola secara inklusif. “Masjid harus menjadi ruang yang nyaman untuk semua generasi,” pesan Mendikdasmen menutup ceramahnya.

