Dari Taman Bermain Menjadi Ruang Literasi: Cerita Kolaborasi Taman Pustaka KH Ahmad Dahlan dan IMM Pulang Pisau
Oleh : Bonni Febrian
PULANG PISAU, PULANGPISAUMU.COM Menjelang matahari tenggelam setiap Jumat sore , suasana Taman Bermain Kota Pulang Pisau di Jalan Panunjung Tarung berubah menjadi lebih hangat. Riuh tawa anak-anak berpadu dengan suara relawan yang membacakan cerita. Di sudut lain, beberapa anak tampak tenggelam dalam halaman-halaman buku, sementara kelompok lainnya berlarian memainkan permainan tradisional yang mulai jarang ditemui.
Tidak ada biaya untuk mengikuti kegiatan itu. Tidak ada syarat khusus. Siapa pun boleh datang, membaca, mendengar cerita, atau sekadar bermain bersama. Begitulah wajah Lapak Baca, sebuah gerakan sederhana yang lahir dari kolaborasi Taman Pustaka KH Ahmad Dahlan Pulang Pisau dan teman teman Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Pulang Pisau.
Kolaborasi ini bukan sekadar menghadirkan buku-buku di ruang terbuka. Lebih dari itu, keduanya berupaya menghidupkan kembali ruang publik sebagai tempat anak-anak belajar, bermain, dan bertumbuh bersama.
Mengusung tema “Buku Sahabatku, Permainan Tradisional Budayaku”, setiap pekan para relawan menghadirkan beragam aktivitas. Anak-anak bebas memilih buku sesuai minatnya, menikmati sesi Read Aloud yang dipandu relawan, hingga mencoba kembali permainan tradisional yang perlahan mulai tergeser oleh permainan digital.
Bagi Taman Pustaka KH Ahmad Dahlan, kegiatan ini berangkat dari kegelisahan yang sederhana. Anak-anak kini semakin akrab dengan layar gawai dibandingkan buku maupun permainan di luar rumah. Dari kegelisahan itulah muncul gagasan untuk membuka ruang alternatif yang lebih ramah bagi tumbuh kembang anak.
Pegiat Taman Pustaka KH Ahmad Dahlan, Nurul Iftiasanti, mengatakan IMM dipilih sebagai mitra karena memiliki semangat kerelawanan sekaligus kedekatan dengan dunia anak dan masyarakat.
“Berangkat dari kekhawatiran mengenai generasi muda ke depan, maka Taman Pustaka juga memikirkan pemuda-pemudi yang ada, yaitu IMM sendiri yang lebih dekat dengan anak-anak,” ujarnya.

Menurut Nurul, permainan tradisional sengaja dihadirkan sebagai pelengkap kegiatan literasi. Sebab, membaca dan bermain sama-sama menjadi bagian penting dalam proses belajar anak.
“Mengingat anak-anak zaman sekarang lebih fokus pada gawai dibandingkan bermain di luar, kami khawatir akan hal itu. Harapannya anak-anak tidak ketergantungan dengan gawai,” katanya.
Bagi para relawan, kebahagiaan justru lahir dari hal-hal sederhana. Senyum anak-anak ketika menemukan buku favoritnya, tawa saat bermain bersama, hingga rasa penasaran mereka setiap kali kegiatan berakhir.
“Setelah Lapak Baca selesai, mereka sering bertanya, ‘Besok ke sini lagi nggak, Kak?’ Pertanyaan seperti itu membuat rasa lelah hilang dan menjadi semangat baru, karena kami merasa kehadiran kami benar-benar ditunggu oleh mereka,” tutur Nurul.
Semangat itulah yang juga dirasakan kader IMM Pulang Pisau. Ketua PC IMM Pulang Pisau, Muhammad Syahrial Adri, menilai literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang berpengetahuan dan berkeadaban.

Menurutnya, keterlibatan IMM dalam kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan peran organisasi di bidang keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan.
“Literasi adalah fondasi peradaban. Harapannya gerakan literasi di Pulang Pisau terus tumbuh dan membudaya karena itulah kunci kemajuan peradaban,” ujarnya.
Ia berharap semakin banyak kader muda yang terlibat dalam kegiatan sosial berbasis literasi sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Di balik kegiatan yang tampak sederhana ini, sesungguhnya ada semangat gotong royong yang terus dirawat. Relawan datang membawa buku, menata lapak, membacakan cerita, mendampingi anak bermain, lalu kembali pulang tanpa mengharapkan imbalan.
Ketua Taman Pustaka KH Ahmad Dahlan Pulang Pisau, Bonni Febrian, menilai kolaborasi menjadi kunci agar gerakan literasi tetap hidup di tengah masyarakat.
Menurutnya, Muhammadiyah sejak awal membawa spirit Iqra sebagai ajakan untuk membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan. Semangat itulah yang ingin terus dihadirkan melalui berbagai gerakan literasi berbasis komunitas.
“Gerakan literasi akan terus tumbuh jika ada ruang kolaborasi, apresiasi, dan nalar berbagi yang terus dijaga. Kekuatan urun daya kaum muda menjadi salah satu kekuatan utama gerakan literasi berbasis komunitas,” ujarnya.
Bonni menambahkan, menjaga gerakan seperti Lapak Baca bukanlah pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan konsistensi, kebersamaan, dan semangat kerelawanan agar kegiatan dapat terus berlangsung.
“Menjalankan gerakan kecil dan sederhana ini membutuhkan usaha yang tidak biasa. Karena itu, nilai kerelawanan harus terus dijaga. Tetap semangat kader-kader, tetap istiqamah bergerak. Sebab dalam setiap pergerakan selalu ada keberkahan,” pungkasnya.
Di tengah derasnya arus digital, Lapak Baca menjadi pengingat bahwa membangun budaya literasi tidak selalu harus dimulai dari ruang yang besar. Cukup dengan hamparan terpal bekas spanduk yang tak terpakai , beberapa buku, alat permainan sederhana, relawan yang tulus, dan anak-anak yang datang dengan rasa ingin tahu.
Setiap Jumat sore, kolaborasi antara Taman Pustaka KH Ahmad Dahlan dan IMM Pulang Pisau membuktikan bahwa ruang publik dapat menjadi ruang belajar. Bahwa membaca bisa berdampingan dengan bermain. Dan bahwa gerakan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menumbuhkan harapan besar bagi lahirnya generasi yang gemar membaca, mencintai budaya, serta peduli terhadap sesama.
Bonni Febrian – Pegiat taman baca

