Jejak Langkah 2 Ulama : Perjalanan Dakwah KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari

Jejak Langkah 2 Ulama

Dua mata air bening yang menyejukkan, mendamaikan, menyegarkan banga

PULANGPISAUMU.COM – KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari adalah dua orang ulama besar di Indonesia. KHA Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah (1912) dan Madrasah Mualimin (1918), KH Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren TebuIreng (1899) dan Nadhatul Ulama (1926).

Keduanya pernah belajar pada KH Saleh Darat, Semarang, sama-sama mengaji kepada KH Cholil Bangkalan dan juga kepada beberapa ulama di Makkah yaitu Syeh Ahmad Khatib Al Minagkabauwy, Syeh Al Bantany, Kyai Dimyati asal Tremas dll.

Tahun 1903 oleh Hamengku Buwono VII, KHA Dahlan ditugaskan untuk berkonsultasi dengan ulama di Makkah untuk mencari upaya melindungi kaum pribumi dari permutadan penjajah, tapi dengan cara damai tanpa kekerasan. Oleh Syeh Rasyid Ridha, Kyai Dahlan memperoleh banyak masukan untuk melakukan dakwah yang damai, sejuk, toleran, menggembirakan, dan menyejahterakan. Kegiatan dakwah itu diwujudkan dengan menggiatkan amar makruf nahi munkar dalam bentuk pendidikan, kesejahteraan sosial dan kesehatan masyarakat.

KH Hasyim Asy’ari tidak jauh berbeda, Beliau juga mendapat masukan untuk menyebarkan agama lewat pendidikan pesantren yang damai, sejuk, toleran, dan semangat persatuan. KH Hasyim Asy’ari ibarat telaga yang airnya jernih, bening, dan segar orang-orang dari segala penjuru negri ingin mengambil air itu untuk mendapatkan manfaatnya. Dengan semangat persatuan dan ketekunan KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng terus mendidik para santrinya dan mendorong para alumninya mendirikan pesantren dimana-mana. Pesantren-pesantren baru itu ibarat telaga-telaga baru yang mengeluarkan air yang sejuk dan bening menyuburkan Indonesia. KH Hasyim Asy’ari berdasarkan surat Ali Imran 103 mendirikan Nadhatul Ulama.

KHA Dahlan bertolak dari Surat Ali Imron 104 dengan semangat memperbaiki masyarakat  dakwah kemana-mana. Kyai Dahlan ibarat mata air yang jernih, bening, sejuk dan segar mengalir ke segala penjuru menyuburkan dan menghijaukan Indonesia. Ratusan Perguruan Tinggi, ribuan Rumah sakit, dan puluhan ribu sekolah mewarnai penjuru negri.

Kedua Ulama ini telah mengajarkan kepada kita untuk berdakwah dengan cara yang menyejukkan, menyegarkan, damai, dan penuh toleransi. Jejak langkah 2 Ulama ini perlu terus dikembangkan ke seluruh Indonesia dan dunia

Bersama semangat itulah film ini dibuat diharapkan bisa menjadi kontribusi untuk kedamaian bangsa dan penguat NKRI.

Film ini di inisiasi oleh Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga PP Muhammadiyah (LSBO), Drs H. Sukriyanto AR,M.Hum yang disambut baik oleh Gus Sholah (Dr. (H.C.) Ir. H. Salahuddin Wahid) pimpinan Ponpes Tebuireng.

Penggarapannya digawangi oleh Cicit Kyai H Ahmad Dahlan sendiri, Andika Prabhangkara. Proses penggalian data dan penulisan naskah menghabiskan waktu hampir 1 tahun.

Proses persiapan shooting (pra produksi) kurang lebih 3 bulan, proses shooting nya menghabiskan waktu 1 bulan dengan lokasi Bangkalan (Madura), Kediri, Jombang, Imogiri, Pelabuhan Adikarto, Studio Gamplong, dan Kampung Kauman. Melibatkan ratusan ekstras figuran dan ratusan pemain.

Kerjasama antara dua  kekuatan besar Islam ini sangat menarik karena inside out, artinya bahwa pembuatan film ini murni dari ‘dalam’ baik dari Muhammadiyah ataupun Ponpes Tebuireng. Mereka memaksimalkan potensi anggotanya yang sangat besar.

Film ini sama-sama produksi yang ketiga dari kedua belah pihak. Secara intern baik LSBO PP Muhammadiyah ataupun Ponpes Tebuireng secara sendiri-sendiri telah membuat 2 film. Dua film terdahulu diputar di kalangan intern berkeliling ke daerah-daerah.

Sumber :

1. Andika Prabhangkara (Cicit Kyai Dahlan dari garis Haji Doeri)

2..Gus Ipang / Irvan Asy’ari Sudirman Wahid (Cicit Kyai Hashim Asy’ari/Putra Gus Sholah)


Lazismu ramadhan

Bonni Febrian

Menginspirasi dan Menggerakkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *