Menulis Sebagai Senjata

Oleh : Arif Yudistira

 

PULANGPISAUMU.COM – Saya cukup lama belajar menulis. Sudah hampir sepuluh tahun, saya belajar menulis. Pelatihan-pelatihan menulis sudah saya ikuti. Baik yang diadakan oleh koran lokal, hingga nasional. Begitu pula pelatihan menulis yang mengundang penulis nasional maupun penulis lokal. Buku-buku tips dan trik dari para penulis juga sudah saya baca. Tetapi seperti yang diungkapkan para penulis tangguh dan juga mereka yang konsisten menulis, cara terbaik belajar menulis adalah menulis itu sendiri.
Saya juga sudah menulis esai selama sepuluh tahun itu pula. Ratusan esai lebih saya kirim ke media massa dan termuat di sana. Selama menulis ratusan tulisan itu pula, saya mengalami masa-masa serta lingkungan yang turut serta mempengaruhi tulisan saya. Tulisan-tulisan itu lahir tidak dari ruang kosong. Ada yang lahir dari percakapan dengan teman, ada yang lahir dari perenungan, ada yang lahir dari semangat saat menggebu-gebu menggeluti Pustaka dan ingin menuangkannya. Bermacam-macam latar belakang itu mempengaruhi tulisan saya.
Terkadang saya menulis dikelilingi buku-buku di sekitar saya. Ini saya lakukan untuk mendapati kutipan yang pas yang harus saya tata, susun dan sempurnakan saat esai ditulis. Perasaan-perasaan saya turut hadir dalam esai-esai saya. Kemarahan, prihatin, serta empati turut mewarnai huruf-huruf itu. Pengalaman-pengalaman, perasaan serta keadaan lingkungan di sekitar saya turut serta membentuk tulisan-tulisan saya.

Bahasa

Menulis, secara tidak langsung memerlukan bahasa yang bisa dirasakan pembaca. Penulis yang baik tahu dan sadar bahwa diksi amat penting dalam penulisan. Diksi menentukan dan membentuk rasa dalam berbahasa. Tanpa pemilihan diksi yang baik, cermat dan teliti, pembaca akan sadar bahwa tulisan terasa hambar ketika dibaca.
Saya mendapati, membaca, seorang penulis dalam sebuah grup WA. Saya berulangkali membaca tulisannya. Tetapi berulangkali pula saya gagal menikmati dan merasakan bahasa penulis jadi terasa masam. Ibarat buah yang belum matang, nano nano. Nano nano ini bukan menunjukkan betapa komplit rasa di tulisannya, tetapi sebaliknya. Kegagalan membuat lead yang menarik, sinkronisasi antar paragraf yang saling tidak nyambung, sampai pada diksi yang dipilih yang gagal membuat pembaca memahami isi tulisan.
Sebagai seorang penulis sekaligus editor lepas, saya memiliki cukup banyak pengalaman dalam mengedit tulisan seseorang. Bila lead gagal menyapa pembaca, mungkin bisa diedit atau diubah dengan tanpa mengubah esensi tulisan. Tetapi bila diksi turut serta gagal dalam tulisan, boleh dibilang tulisan itu menjadi gagal. Pembaca esai di Indonesia tentu merasakan beda rasa tulisan Goenawan Mohamad dengan tulisan Radar Panca Dahana misalnya.
Rasa dalam tulisan itu salah satunya dibentuk oleh diksi yang bagus. Diksi yang bagus ibarat not dalam music. Jika notnya saja gagal, mana mungkin akan menghasilkan music dan lagu yang bagus.
Tulisan Ignas Kleden tentu akan sangat berbeda dengan esai ala Okky Madasari. Mereka menemukan rasa masing-masing. Kelezatan tulisan mereka tentu memiliki rasa masing-masing, walaupun masing-masing memiliki kekuatan diksi yang baik.
Penulis memang memiliki kuasa atau wewenang terhadap huruf-huruf, kalimat yang mereka susun. Tetapi kekuatan penulis ditentukan pembaca. Merawat pembaca, adalah tugas penulis. Cara penulis menjaga atau merawat pembaca adalah menulis dengan sebaik-baiknya, sebaik mungkin dengan segenap daya dan tenaga.
Saya kenal penulis yang model tulisannya ala-ala percakapan sehari-hari. Tetapi ia sangat lihai dalam urusan diksi. Selain urusan diksi, bahasanya sangat wong cilik. Bahasa keseharian yang renyah. Anda pasti kenal Emha Ainun Najib. Ada juga Putu Setia, dan juga Dahlan Iskan. Mereka menulis dengan bahasa percakapan. Bahasa yang mengalir begitu saja, tetapi tidak kehilangan makna. Saya yakin mereka sudah bertahan, berlatih dan bertarung dengan banyak esai yang ditulis sehingga menemukan gaya bahasa yang seperti itu.
Tidak mudah menulis dengan bahasa percakapan dan rasa bahasa ala wong clik seperti itu. Tetapi ketika berhasil ditulis, bukan hanya menyentuh, tetapi awet. Tulisan bagus itu tulisan awet, meski sudah terbit puluhan tahun lalu, ia selalu menemukan konteksnya di masa sekarang maupun mendatang. Siapa yang bisa merasakan seperti itu kalau bukan pembaca. Inilah kuasa pembaca.

Bukuku Kakiku

Kalau Tuan dan Puan pernah membaca Bukuku Kakiku garapan Gramedia, kita bisa mahfum kekuatan buku dalam hidup seseorang. Buku memiliki kekuatan mengubah hidup seseorang. Dalam karir intelektual yang telah ditempuh oleh beragam orang yang menulis di buku itu, kita mendapati buku sebagai kaki untuk melangkah dan membawa pada perjuangan hidup yang menakjubkan.
Buku dalam tulisan juga menjadi kaki. Ia akan mengajak pembaca berjalan-jalan ke dalam referensi yang dikutip dalam tulisan seseorang. Pembaca diajak yakin, curiga, turut cemburu atau turut bahagia melalui kutipan di tulisan itu.
Kegagalan dalam mengutip menambah pembaca ragu, menambah pembaca kesal, kecewa atau bahkan marah. Kutipan tidak hanya menguatkan argumen atau gagasan yang ditulis penulis, tetapi juga memperkokoh tulisan seperti kaki. Kutipan diperoleh tidak hanya dari pembacaan, tetapi juga hasil renungan dari penulis. Peristiwa yang dialami penulis dari hasil membaca beragam referensi. Itulah mengapa menulis menjadi proses yang kadang perih, getir dan penuh dengan perjuangan. Menghasilkan tulisan yang bagus memerlukan waktu.
Penulis yang baik tahu, ia akan menghasilkan tulisan tidak secepat buang angin. Itulah mengapa pemikir seperti Sartre, Neitzhe, atau Goenawan Mohamad sekalipun bahkan memerlukan dua jam atau bahkan lebih untuk menghasilkan satu esai. Tetapi proses membaca, merenung dan menemukan idenya bisa sebulan bahkan tahunan.
Kekuatan tulisan itu bisa sangat dirasakan begitu dahsyat, menggerakkan oleh pembaca. Perubahan, berawal dari pikiran yang tersentuh dari tulisan yang mungkin sederhana, tetapi memiliki bekas yang cukup dalam di hati dan pikiran pembaca. Jadi masih berpikir menulis itu mudah?Ternyata tidak sesederhana itu.

 

Arif Yudistira, Pegiat Sarekat Taman Pustaka, Pendidik di PPM MBS Yogya

 


Lazismu ramadhan

Bonni Febrian

Menginspirasi dan Menggerakkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *