OMON-OMON PAK BEI (5): HOLOPIS KUNTUL BARIS

Oleh: Wahyudi Nasution

Dari sekolah, rumah sakit, hingga petani,
Amal usaha Muhammadiyah selalu lahir dari kepedulian.
Dialog Kang Narjo dan Pak Bei mengajak kita memahami lahirnya JATAM.

 

KANG NARJO: Pak Bei, kenapa Muhammadiyah mendirikan Jatam, Jamaah Tani Muhammadiyah? Apa perlunya?

PAK BEI: Wah itu panjang ceritanya, Kang. Bisa jadi cerita seribu satu malam.

KANG NARJO: Sepintas kilas saja, Pak Bei.

PAK BEI: Lha pertanyaanmu itu kan seperti pertanyaan ‘Kenapa Muhammadiyah mendirikan sekolah, Perguruan Tinggi, Panti Asuhan, dan Rumah Sakit PKU di seluruh penjuru. Jawabannya bisa panjang kali lebar, Kang.

KANG NARJO: Kalau Amal Usaha Muhammadiyah yang itu aku sudah paham, Pak Bei. Gak perlu penjelasan. Tapi soal Jatam ini aku masih penasaran. Kenapa Muhammadiyah repot-repot ikut ngurusi petani. Pemerintah kan sudah punya Kementerian Pertanian dengan perangkat yang terstruktur dari Pusat hingga PPL, juga didukung secara politik serta anggaran APBN dan APBD yang sangat besar setiap tahun.

PAK BEI: Kang Narjo pasti juga tahu, negara sudah punya Kemendikdasmen, tapi Muhammadiyah tetap bikin sekolah-sekolah sejak PAUD hingga SMA-SMK-MA. Iya, kan?

KANG NARJO: Iya bener, Pak Bei. Saya tahu. Menurut data yang pernah saya baca, saat ini Muhammadiyah punya sekolah sejak SD/MI, SMP/Mts, hingga SMA/SMK/MA sejumlah 5.346. Untuk PAUD/TK saya belum tahu, tapi pasti ada ribuan jumlahnya.

PAK BEI: Itu benar, Kang. Pemerintah juga sudah punya Kementerian Pendidikan Tinggi, tapi Muhammadiyah juga terus membangun Universitas dan Perguruan Tinggi lainnya di berbagai kota dan daerah.

KANG NARJO: Iya, Pak Bei. Saat ini ada 173 Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, dan Akademi. Itu luar biasa.

PAK BEI: Pemerintah sudah punya Kementerian Kesehatan dengan Rumah Sakit dan Puskesmas di seluruh kota Kecamatan, bahkan bidan di setiap Desa. Tapi Muhammadiyah juga terus membangun Rumah Sakit PKU Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di mana-mana.

KANG NARJO: Benar, Pak Bei. Saat ini Muhammadiyah punya 119 Rumah Sakit PKU dan 231 Poliklinik.

PAK BEI: Pemerintah sudah punya Kementerian Agama, tapi Majelis Tabligh dan Majelis Tarjih Muhammadiyah di mana-mana masih terus aktif membina masyarakat melalui pengajian dan majelis taklim lainnya.

KANG NARJO: Iya benar, Pak Bei. Itu karena pembinaan umat tidak mungkin dilakukan oleh Kemenag yang memang tugasnya lebih pada administrasi.

PAK BEI: Ya begitulah, Kang Narjo sudah tahu. Muhammadiyah sejak jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara melalui Proklamasi 1945, sudah melakukan dakwah di berbagai bidang, membangun kesadaran umat arti pentingnya kemerdekaan sebagai bangsa. Sekolah-sekolah dan madrasah dibangun agar anak-anak negeri menjadi pintar dan tidak gampang dibodohi. Rumah sakit dibangun untuk melayani kesehatan umat. Panti asuhan dibangun untuk merawat anak-anak yatim, piatu, dan gelandangan. Dan itu semua dibiayai dari infaq, zakat, shadaqah jamaah. Semua dilakukan dengan ikhlas lillaahita’ala.

KANG NARJO: Kembali ke soal Jatam, Pak Bei, itu bagaimana ceritanya?

PAK BEI: Baiklah. Kang Narjo sudah tahu betapa petani kita mayoritas berposisi dhu’afa dan mustadh’afin, lemah dan dilemahkan. Karena apa, Kang? Karena banyak faktor.

KANG NARJO: Apa saja, Pak Bei.

PAK BEI: Pertama, karena petani kita rata-rata lahannya sempit. Dulu hasilnya masih relatif cukup untuk hidup lumrah di desa. Tapi seiring perkembangan jaman, petani semakin terpinggirkan. Harga-harga kebutuhan pokok terus naik, biaya sekolah dan kesehatan mahal, pajak listrik dan PBB terus naik, harga BBM juga tinggi. Di sisi lain, mereka tidak kuasa menentukan harga jual panennya sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

KANG NARJO: Jadinya petani tetap miskin ya, Pak Bei. Terus, faktor apalagi penyebabnya?

PAK BEI: Kedua, rata-rata petani kita tidak cukup punya ilmu dalam hal budidaya dan penguasaan teknologinya. Maka produktivitasnya pun jadi rendah. Padahal perkembangan teknologi pertanian dan pangan berkembang sangat cepat.

KANG NARJO: Iya ya, Pak Bei. Petani kita bekerja sekedar bekerja secara manual dan tradisional. Menam apa juga cenderung cuma ikut-ikutan temannya.

PAK BEI: Di tengah persaingan global dan keran impor yang terbuka lebar saat ini, petani kita tidak mampu bersaing dalam hal kualitas dan harga.

KANG NARJO: Wah itu kan seharusnya menjadi ranah Pemerintah memproteksi ya, Pak Bei. Tanpa proteksi, petani kita jelas kalah kalau harus bersaing dengan petani-petani China, India, Thailand, dan Vietnam.

PAK BEI: Yang keempat, Kang, petani kita masih bekerja sendiri-sendiri, belum berjamaah. Memang ada Kelompok Tani (Poktan) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), tapi skalanya sangat kecil, hanya di tingkat Desa. Perlu ada pengorganisasian petani berskala Nasional agar punya daya tawar yang kuat terhadap pasar, terhadap pabrikan pupuk, obat-obatan, dan alsintan, dan yang tidak kalah penting terhadap pengambil kebijakan.

KANG NARJO: Wah bagus itu, Pak Bei. Tapi saya jadi khawatir, jangan-jangan Jatam nanti akhirnya terjebak masuk ke politik, hanya jadi kendaraan politik oknum-oknumnya, Pak Bei….

PAK BEI: Maksudnya?

KANG NARJO: Boleh jadi gerakan yang berskala Nasional, apalagi yang mengatasnamakan petani, ujung-ujungnya cuma jadi kendaraan politik bagi segelintir tokohnya.

PAK BEI: Silakan Kang Narjo melihat sejarah dan reputasi Muhammadiyah. Apakah seperti itu yang terjadi? Dulu Bung Karno Proklamator RI aktivis dan guru sekolah Muhammadiyah. Panglima Besar Jenderal Soedirman juga guru Muhammadiyah. Ir. Djuanda, pahlawan yang mengintegrasikan wilayah laut dan kepulauan menjadi NKRI, juga guru Muhammadiyah. Dan masih banyak nama pahlawan Nasional tercatat sebagai aktivis Muhammadiyah. Mereka menafkahkan hidupnya untuk kemerdekaan dan mengangkat martabat bangsanya. Hight politic, Kang

KANG NARJO: Bukan politik rendahan untuk kepentingan diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri ya, Pak Bei.

PAK BEI: Tepat, Kang. Insya Allah di Jatam pun demikian. Nah, kini saat para petani bergabung di Jatam. Saatnya para petani berjamaah, bahu-membahu membangun harga diri dan meningkatkan produktivitasnya, agar bangsa kita ke depan dapat berdaulat di bidang pangan. Holobis kuntul baris…

KANG NARJO: Wah luar biasa. Terima kasih, Pak Bei. Obrolan siang ini bikin saya jadi semangat bergabung di Jatam.

 

Klaten, 23 Agustus 2025

 

 

Wahyudi Nasution | Ketua Panitia Jambore Nasional 1 JATAM


Lazismu ramadhan

Bonni Febrian

Menginspirasi dan Menggerakkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *