Menyongsong Festival Literasi, Serikat Taman Pustaka Bahas Tantangan dan Peluang Literasi Muhammadiyah

YOGYAKARTA, PULANGPISAUMU.COM  – (13/7) Serikat Taman Pustaka  Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah  mengadakan sebuah kegiatan diskusi bertajuk “Road To Festival Literasi Taman Pustaka : Sharing Para Pegiat ” dalam rangka menyongsong Festival Literasi Taman Pustaka Agustus mendatang. Kegiatan diskusi ini diikuti oleh sejumlah taman baca atau bahkan taman pustaka yang ada di bawah Muhammadiyah ataupun ‘Aisyiyah se-Indonesia. Kegiatan ini membahas kisah-kisah inspiratif dari para penggerak komunitas literasi Muhammadiyah di berbagai wilayah.

“Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tidak pernah lepas dari gerakan literasi.” tegas Widyastuti dalam sambutannya. Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu dalam sambutannya menekankan bahwa kader-kader Muhammadiyah tidak boleh kering literasi. Menurut Widyastuti, hal ini cukup terbukti dengan masih eksisnya Majalah Suara Muhammadiyah hingga saat ini.

Dalam diskusi ini, beberapa pengurus taman baca menceritakan seperti apa dinamika taman baca yang dikelolanya. Taman Baca Cahaya dari Lamongan misalnya, salah satu pengurus disana, Wariyono, menceritakan bahwa taman bacanya mulai kehilangan tempat untuk membuka forum. Sebelumnya, mereka sempat menempati Gedung Dakwah Muhammadiyah Belimbing. Karena dianggap kurang representatif dan dekat dengan pembaca, akhirnya mereka berpindah ke dekat Tempat Pelelangan Ikan, Paciran.

“Masalah kami setelah pandemi ini adalah kurangnya relawan” kata Yono. Ia mengeluhkan rekrutmen baru yang hanya mampu menarik sedikit relawan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dahulu relawan taman bacanya adalah anak-anak IPM setempat yang saat ini banyak merantau ke kota-kota lain.

Setelah Taman Baca Cahaya, Taman Pustaka KH Ahmad Dahlan Pulang Pisau juga menceritakan kisahnya. Berdiri pada tahun 2017, awalnya taman pustaka ini hanya pojok baca di dalam masjid. Berkat pojok baca yang dikembangkan dengan sungguh-sungguh tersebut, masjid yang awalnya hanya beberapa jamaah itu, lambat laun kian bertambah jamaahnya. Hingga tahun 2023, akhirnya mendapat perhatian dari Kemenag Pusat yang bekerjasama dengan Perpusnas RI memberikan bantuan sarana dan perlengkapan untuk Taman Pustaka KH Ahmad Dahlan, seperti lemari,  rak buku, meja,  unit komputer, AC dan koleksi bahan pustaka.

Taman Pustaka KH Ahmad Dahlan ini juga memiliki hambatannya sendiri. Taman Baca yang telah mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Perpusnas itu, mengeluhkan tentang belum adanya SDM yang bisa menjadi pustakawan  tetap untuk mengelola calon perpustakaan yang berawal dari pojok baca tersebut.

Selanjutnya, David Effendi selaku pengelola Taman Baca Komunitas menceritakan sebenarnya seperti apa awalnya Serikat Taman Pustaka ini terbentuk. Berawal dari diinisiasi oleh beberapa pihak, serikat ini pun semakin berkembang dan menginspirasi warga persyarikatan di berbagai daerah.

Dengan banyaknya geliat taman baca dan taman pustaka di berbagai daerah ini, seharusnya hal ini bisa dimaksimalkan dengan komitmen kuat untuk menjadikannya sebagai gerakan ilmu Muhammadiyah. Hal ini bisa dimulai dengan memaksimalkan distribusi ke berbagai daerah, terutama di pelosok.

Kemudian, ia memberikan worldview-nya tentang dinamika industri perbukuan di Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Ia menyesalkan penerbit-penerbit di Muhammadiyah yang belum memberdayakan penulis-penulis pemula. Tidak hanya itu, segmentasi umur pada buku-buku yang diterbitkan dari penerbit Muhammadiyah masih sangat minim untuk remaja dan anak-anak. “‘Apa sumbangsih kita terhadap pemikiran para anak didik itu?”

Bagi David, Muhammadiyah sudah seharusnya memperhatikan persoalan literasi ini. Demikian juga dengan Serikat Taman Pustaka selaku wadah bagi para penggiat literasi. (Red)

p


Lazismu ramadhan

Bonni Febrian

Menginspirasi dan Menggerakkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *