Saat Logika Bertemu Rasa: Irvan Yazid Pasaribu Luncurkan Novel ‘Saat Namaku Dilupakan’ di Tengah Perjalanan Literasi
PULANG PISAU, PULANGPISAUMU.COM – Di sela rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat yang sarat akan dialektika ilmiah, sebuah momen hangat dan reflektif hadir. Muhammad Irvan Yazid Azhar Pasaribu, dosen Administrasi Publik secara resmi melakukan soft launching novel debutnya yang berjudul “Saat Namaku Dilupakan”.
Novel ini menjadi karya unik yang menjembatani dunia logika seorang dosen dengan kedalaman rasa seorang seniman. Irvan menghadirkan kisah tentang Raka, seorang dosen, dan mahasiswinya bernama Alya, yang terjebak dalam situasi yang tidak terduga di sebuah minimarket. Namun, di balik pertemuan sederhana itu, tersimpan perjalanan emosional yang kelam tentang seseorang yang perlahan hilang dari ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya, bukan hilang secara fisik, melainkan memudar dari memori dunia yang terus berjalan.
“Novel ini adalah cara saya menyampaikan tentang pertemuan, kehilangan, dan hal-hal kecil yang diam-diam membekas,” tutur Irvan.
Dengan sinopsis yang menggugah, karya ini menantang pembaca untuk merenungkan pertanyaan eksistensial yang menghantui: Apa yang tersisa ketika tidak ada lagi yang mengingat kita? Serta, Apakah kita benar-benar ada jika tidak ada lagi yang mengingat kita?

Acara peluncuran ini pun menjadi sesi yang emosional sekaligus inspiratif. Sebagai bentuk apresiasi, Irvan membagikan novel tersebut kepada mahasiswa yang hadir, menjadikan buku ini sebagai jembatan dialog antara pengajar dan mahasiswa. Melalui karya yang mengeksplorasi memori yang retak dan kesepian yang tak bersuara ini, Irvan menunjukkan bahwa menjadi seorang dosen bukan berarti harus terkungkung dalam birokrasi, tetapi juga mampu menjadi penutur cerita yang memanusiakan setiap kenangan

