Membaca Muhammadiyah Hari Ini melalui Buku Reinventing Muhammadiyah
PULANGPISAUMU.COM – Muhammadiyah sejak awal dikenal sebagai gerakan pembaruan. Semangat tajdid menjadi bagian penting dalam perjalanan Persyarikatan, termasuk dalam merespons perubahan sosial dan persoalan umat.
Namun, perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat menghadirkan pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: ketika Muhammadiyah membawa semangat pembaruan, apakah gerakan itu sendiri juga terus melakukan pembaruan?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu gagasan yang mengemuka dalam buku Reinventing Muhammadiyah: Desakan Pembaruan Gerakan Pembaharuan, yang kini telah diterbitkan.
Buku tersebut menghimpun berbagai gagasan dan pandangan dari kader Muhammadiyah. Di dalamnya terdapat kritik, kegelisahan, sekaligus harapan terhadap perjalanan dan masa depan Persyarikatan.
Karena itu, buku ini tidak hanya dapat dipandang sebagai kumpulan tulisan. Lebih dari itu, Reinventing Muhammadiyah menjadi ruang untuk melihat kembali berbagai persoalan yang dihadapi Muhammadiyah sekaligus membuka percakapan tentang arah gerakan ke depan.
Sejumlah tema dibahas dari berbagai sudut pandang, mulai dari tata kelola organisasi, ideologi, kaderisasi, ekonomi, politik, lingkungan, hingga persoalan kesejahteraan kader.
Keragaman pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi yang terus berkembang berhadapan dengan tantangan yang juga semakin beragam.
Perubahan karakter generasi, perkembangan teknologi, dinamika masyarakat, serta persoalan umat dan bangsa menuntut gerakan untuk terus membaca keadaan dan menyesuaikan langkahnya.
Dalam konteks itulah kritik menjadi bagian penting dari proses pembaruan.
Kritik tidak selalu berarti penolakan terhadap organisasi. Kritik dapat muncul justru karena adanya kepedulian dan harapan agar Muhammadiyah mampu terus tumbuh dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Buku ini kemudian menjadi salah satu ikhtiar untuk menghadirkan ruang dialog mengenai Muhammadiyah hari ini dan arah Muhammadiyah yang ingin dibangun pada masa mendatang.
Menjadi Bagian dari Percakapan
Ada kebahagiaan tersendiri bagi saya karena beberapa tulisan yang pernah saya buat turut menjadi bagian dalam buku ini. Tulisan tersebut kemudian dihimpun bersama gagasan kader Muhammadiyah lainnya dalam sebuah ruang diskusi tentang masa depan Persyarikatan.
Namun, menjadi bagian dari sebuah buku tidak semata-mata tentang kebanggaan sebagai penulis.
Ada tanggung jawab yang ikut menyertainya.
Ketika tulisan berbicara mengenai masa depan Muhammadiyah, maka penulis maupun pembacanya memiliki kesempatan untuk terus belajar, membaca, berdiskusi, sekaligus memikirkan bagaimana Persyarikatan dapat tetap memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Muhammadiyah tentu tidak cukup hanya bertumpu pada keberhasilan yang telah dicapai pada masa lalu.
Zaman berubah, generasi berganti, teknologi berkembang, dan persoalan masyarakat pun semakin kompleks.
Karena itu, berbagai aspek gerakan perlu terus dipikirkan. Mulai dari tata kelola organisasi, kaderisasi, pengembangan amal usaha, dakwah, ekonomi, produksi pengetahuan, hingga cara menjangkau generasi muda.
Semua membutuhkan ruang evaluasi dan kemungkinan untuk diperbarui.
Namun, reinventing Muhammadiyah bukan berarti meninggalkan identitas dan nilai yang selama ini menjadi dasar gerakan.
Sebaliknya, pembaruan diperlukan agar semangat tajdid tetap hidup dan mampu menjawab tantangan zaman.
Semangat pembaruan bukan hanya tentang apa yang telah dilakukan para pendahulu. Ia juga berarti keberanian membaca perubahan, mengevaluasi keadaan, dan mencari pendekatan baru agar gerakan tetap relevan.
Membaca dengan Pikiran Terbuka
Karena itu, Reinventing Muhammadiyah dapat menjadi bahan bacaan bagi kader, anggota, pimpinan, aktivis, akademisi, maupun siapa saja yang ingin melihat dinamika pemikiran dan perjalanan Muhammadiyah dari berbagai perspektif.
Buku ini pun tidak harus dibaca dengan tuntutan untuk menyetujui seluruh gagasan yang disampaikan.
Justru perbedaan pandangan dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya dialog.
Dari dialog, tumbuh pemikiran. Dari pemikiran, terbuka kemungkinan lahirnya pembaruan.
Harapannya, buku ini tidak berhenti sebagai karya yang selesai setelah dibaca. Gagasan-gagasan di dalamnya dapat terus dibicarakan di berbagai ruang Muhammadiyah, menjadi bahan refleksi, sekaligus memantik percakapan tentang gerakan pada masa mendatang.
Sebab Muhammadiyah bukan hanya warisan yang perlu dijaga, tetapi juga gerakan yang harus terus dihidupkan.
Gerakan pembaruan pada akhirnya juga perlu memiliki keberanian untuk memperbarui dirinya.
Bagi pembaca yang ingin membaca versi digitalnya, buku tersebut dapat diakses melalui s.id/reinventing-muhammadiyah.
Penulis : Irfan Sholahuddin Gozali, S.E., M.E.

