Menjaga Niat, Menjaga Nilai Ramadan

Refleksi Kultum Bada Subuh di Masjid KH Ahmad Dahlan

PULANG PISAU – Pagi itu, suasana di Masjid KH Ahmad Dahlan,  usai Salat Subuh berjamaah, para jamaah tetap bertahan di saf, menyimak kultum bada Subuh yang disampaikan oleh Ustadz Salman Alfarisi, S.Pd.I , mubaligh  asal Lamongan yang sedang menjalankan dakwah di wilayah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pulang Pisau.

Tema yang diangkat sederhana, tetapi sangat mendasar: niat sebagai syarat sah puasa.

Dalam penjelasannya, Ustadz Salman mengurai perbedaan antara syarat wajib dan syarat sah puasa. Syarat wajib menentukan apakah seseorang terkena kewajiban berpuasa, yaitu Islam, baligh, berakal, dan mampu menjalankannya. Sementara syarat sah menentukan apakah puasa yang dijalankan benar-benar bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Di antara syarat sah tersebut adalah niat.

Beliau menegaskan, seseorang yang menahan lapar dan haus tanpa niat puasa, maka tidak tercatat sebagai ibadah. Karena itu, niat menjadi pembeda antara ibadah dan kebiasaan.

Masjid KH Ahmad Dahlan berlokasi di lantai 1 Gedung Dakwah Muhammmadiyah Pulang Pisau (Foto Istimewa)

 

Mengutip sabda Rasulullah ﷺ, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya,” beliau mengingatkan bahwa kekuatan puasa bukan hanya pada menahan diri dari makan dan minum, tetapi pada kesadaran hati bahwa itu dilakukan karena Allah.

Untuk puasa Ramadan, niat harus dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar. Letaknya di dalam hati dan tidak disyaratkan untuk dilafalkan. Inilah yang membedakan puasa wajib Ramadan dengan puasa sunnah yang masih diperbolehkan berniat di pagi hari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Kultum singkat tersebut terasa begitu menyentuh. Ia mengingatkan bahwa ibadah bukan hanya soal gerakan dan rutinitas, tetapi soal kesungguhan hati.

Ramadan sering kali datang dengan semangat yang menggebu di awal, namun perlahan melemah di tengah perjalanan. Karena itu, memperbaiki dan memperbarui niat setiap hari menjadi kunci agar puasa tidak hanya menjadi aktivitas fisik, tetapi benar-benar menjadi sarana peningkatan ketakwaan.

Masjid bukan hanya tempat salat berjamaah, tetapi juga ruang belajar dan memperdalam pemahaman agama. Melalui kultum bada Subuh seperti ini, Masjid KH Ahmad Dahlan terus berperan sebagai pusat dakwah dan pembinaan umat di Kabupaten Pulang Pisau.

Semoga setiap ilmu yang disampaikan menjadi cahaya, dan setiap niat yang diluruskan menjadi jalan menuju keberkahan.

 

Pulang Pisau, Ba’da Subuh,

22 Februari 2026

Bonni Febrian


Lazismu ramadhan

Bonni Febrian

Menginspirasi dan Menggerakkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *